RADARJOGJA.CO.ID-Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Magelang memilih cara berbeda dalam melakukan sosialisasi pajak. Mereka mengadakan Seminar Bisnis dan Workshop Internet Marketing, dengan peserta para UMKM Magelang dan sekitarnya, di Atria Hotel Magelang. Kegiatan tersebut menghadirkan dua narasumber yakni Saptuari Sugiharto, pemilik Kedai Digital dan Sambodo Malik, pakar bisnis online di Magelang. Keduanya

Pada sesi pertama, Saptuari membuka dengan Hadis Nabi Muhammad SAW soal hutang dan riba. Diantaranya yang berbunyi, hutang membuat kegelisahan di malam hari dan kehinaan di siang hari. Dijelaskan juga mengenai bahaya dan dosanya riba. Termasuk soal dosa teringan akibat riba seperti menzinai ibu kandung sendiri.

“MUI sebagai salah satu lembaga yang menaungi umat islam di Indonesia juga telah mengeluarkan fatwa tentang haramnya riba. Yaitu fatwa nomor 1 tahun 2004. Akan tetapi entah kenapa banyak yang tidak tau tentang fatwa MUI tersebut,” kata Saptuari.

Dalam kesempatan itu, Saptuari meminta agar para pelaku UMKM jangan berhutang bahkan riba saat memulai usaha. Hal tersebut akan menyulitkan usaha di kemudian hari. Pendiri beberapa franchise usaha tersebut bahkan mengajak para pelaku UMKM untuk hidup dari nol dan menjauhi hutang.

“Sabda Nabi Muhammad SAW sudah jelas, bahwasanya akan hadir di suatu masa semua orang akan memakan riba. Sampai-sampai yang tidak makan riba akan kena debunya. Mari kita meninggalkan hal-hal yang berbau riba karena dosanya ngeri banget,” pintanya.

KPP Pratama Magelang sendiri menyelenggarakan kegiatan tersebut untuk meningkatkan kepatuhan pelaku UMKM untuk membayar pajak. Salah satu caranya adalah membantu meningkatkan kesejahteraan wajib pajak WP. KPP Pratama memberikan pembinaan melalui sistem Bussiness Development Services.

“Kami membantu UMKM untuk meningkatkan daya saing menuju kesuksesan usaha,” ungkap Kepala Seksi Ekstensifikasi dan Penyuluhan KPP Pratama Magelang, Isnani.

Selama ini, ia menyebutkan angka kepatuhan membayar pajak dari kalangan UMKM masih tergolong rendah yakni 40-50 persen. Menurut dia, penyebab ketidakpatuhan membayar pajak dari kalangan UMKM adalah tidak pahamnya akan pajak. Dijelaskan juga Pajak Penghasilan (PP) bukan merupakan pajak rutin, melainkan pajak yang dibayar ketika kegiatan berjalan.

“Kalau usahanya jalan, pajaknya berjalan, kalau usahanya meningkat, pajaknya pun meningkat,” tandasnya.(dem/hes)