RADARJOGJA.CO.ID-Gempa Jogja 27 Mei 2006 silam masih begitu membekas di benak warga Jogjakarta dan sekitarnya. Gempa yang terjadi akibat pergeseran sesar opak tersebut telah menimbulkan kerugian besar. Tiga ribu lebih nyawa melayang. Ribuan bangunan hancur.
Kini, setelah lebih dari satu dasawarsa, ancaman gempa tersebut berpeluang berulang kembali. Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) JogjakartaI Nyoman Sukanta menjelaskan, gempa memiliki periode ulang. Jika di suatau wilayah pernah terjadi gempa, maka kemungkinan bisa terjadi lagi gempa, namun waktunya kapan tidak diketahui.

“BMKG mengimbau agar masyarakat, terutama di titik-titik yang pernah terjadi gempa untuk waspada dan mendapatkan edukasi evakuasi,” tandasnya.

Dia mengatakan, gempa bumi terjadi karena ada akumulasi energi, sekuat dan seberapa lama energi itu tertahan tergantung seberapa kuat batu-batuan yang ada di sekitarnya menahan. “Semakin kuat batu-batuan menahan, maka energi yang terkumpul semakin banyak,” ujarnya.

Dijelaskan, di DIJ sumber gempa ada dua, yakni akibat pergerakan lempeng di laut dan di darat akibat patahan lokal. Menurutnya, penting bagi masyarakat untuk mengetahui patahan-patahan lokal.

Misalnya sesar Opak, seberapa panjang dan melewati daerah mana saja. Dengan demikian, masyarakat bisa mengantisipasi kerugian akibat gempa dengan tidak membangun bangunan berisiko tinggi, seperti bangunan bertingkat dan bendungan.

Selain itu, masyarakat di pesisir Pantai Selatan juga harus mewaspadai terjadinya gempa, terutama di wilayah-wilayah yang berpotensi tsunami. Sebab, gempa yang terjadi di laut ada potensi terjadinya tsunami.

“Maka perlu edukasi masyarakat bagaimana cara evakuasi, kami sudah memasang sirine. Kalau terjadi gempa kemudian mendengar sirine, tidak usah menunggu apa-apa, langsung saja lari,” ujarnya.

Sukanta mengungkapkan, perluasan pemetaan secara detail sumber-sumber gempa sudah dilakukan. “BMKG sudah memetakannya,” ujarnya. (dya/eri)