RADARJOGJA.CO.ID – SLEMAN – Angka kekerasan terhadap perempuan dan anak di Sleman selalu meningkat setiap tahunnya. Hanya saja ada pergeseran tren pada kuartal akhir 2016 ini. Berdasarkan data UPT Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Sleman, subjek dan objek kekerasan didominasi anak dan remaja.

Kepala UPT P2TP2A Iscahyawati menuturkan pergeseran ini terdeteksi hingga November 2016. Berdasarkan data yang masuk, usia anak jauh lebih rentan terhadap kekerasan. Tidak hanya sebagai korban, dalam beberapa kasus anak juga menjadi pelaku. “Ironisnya memang seperti itu. Kasus kekerasan terjadi di lingkungan rumah, sekolah hingga kekerasan jalanan. Selain kekerasan fisik juga ada kekerasan dan pelecehan seksual, bullying dan ragam kekerasan lainnya,” kata Iscahyawati di Pendopo Rumah Bupati Sleman, kemarin (6/12).

Dia menduga ada sistem yang salah di lingkungan anak. Salah satunya berdasarkan faktor kebiasaan dalam lingkungan. Di mana kekerasan sudah dianggap biasa dan kerap terulang. Upaya pencegahan sejatinya sudah dilakukan. Sayangnya upaya ini masih belum bisa memutus mata rantai kekerasan. Justru kasus kekerasan anak terutama pelajar terus meningkat. Bahkan atmosfer kekersan pelajar terus meningkat beberapa waktu ini.

Menurutnya, kuncinya adalah orangtua sebagai sosok yang melindungi anak dari dunia luar. Orangtua harus bisa memahami pola pikir anaknya. Lebih tepatnya mencegah sebelum terjadi. “Caranya dengan membekali pengetahuan dan rajin berdiskusi dengan anak,” jelasnya.

Is mengungkapkan hingga Desember, UPT P2PT2A menerima 133 laporan. Laporan ini belum termasuk laporan yang masuk ke Polres Sleman, lembaga pemerhati perempuan dan anak. Bahkan dia menduga jumlah laporan juga besar di forum tingkat kecamatan.

Dia berharap kroban maupun lingkungan berani untuk melapor. Fenomena yang terjadi korban terkadang enggan untuk melapor. Itu terutama untuk kasus kekerasan dan pelecehan seksual. P2PT2A menyediakan pendampingan konselor hukum dan psikolog bagi korban. “Biasanya untuk korban dewasa utamakan musyawarah baru jalur hukum. Sementara untuk korban anak harus tegas dengan jalur hukum. Kami melihat posisi anak adalah aset, sehingga harus tegas,” tegasnya.

Siti Roswati Handayani dari Rifka Annisa WCC menuturkan, Sleman menduduki posisi tertinggi kasus kekerasan di DIJ. Ada 350 kasus kekerasan yang nampak di permukaan. Dia menduga masih banyak kasus kekerasan yang belum terdeteksi.

Uniknya terkadang korban justru terasing di lingkungan. Mulai dari dikucilkan hingga mendapat cemooh dari tetangga lingkungan. Padahal menurutnya, lingkungan seharusnya ideal membangun keamanan bagi korban.

“Tidak sedikit yang memilih pindah rumah karena tidak nyaman dengan lingkungannya. Bisa dari kasus pengucilan atau justru perhatian yang berlebihan. Masyarakat harus disiapkan, tetap beraktivitas normal sebagai proses trauma healing untuk korban,” ujarnya. (dwi/din/ong)