RADARJOGJA.CO.ID – JOGJA – Polresta Jogja meringkus pelaku asusila, Sutoyo, 43, guru di salah satu sekolah negeri di Purworejo, Jawa Tengah setelah melakukan perbuatan asusila terhadap muridnya sendiri. Pelaku yang berstatus PNS ini ditangkap di kediamannya di Grabag, Purworejo. Peristiwa pencabulan terhadap anak di bawah umur itu dilakukan oleh pelaku di sebuah hotel di Jogja pada (12/11) lalu.

Kasatreskrim Polresta Jogja AKP M Kasim Akbar Bantilan menuturkan, sebelum perbuatan bejat itu dilakukan, pelaku menjanjikan sesuatu kepada korban asalkan mau diajak ke Jogjakarta. Karena tergiur dengan tawaran pelaku, korban menuruti ajakan tersebut.

“Mereka berdua ke Jogja naik kereta api,” jelas Bantilan di Mapolresta Jogja, kemarin (7/12).

Korban, sebut saja Lanang, 17, awalnya tidak menaruh curiga terhadap pelaku, yang juga seorang pembina Pramuka di sekolah tersebut. Korban pun berpamitan kepada orang tua untuk jalan dengan sang guru.

Selama di Jogjakarta, mereka berputar-putar ke sejumlah lokasi salah satunya ke kawasan Malioboro. Setelah membeli charger handphone di sebuah pusat perbelanjaan, pelaku mengajak korban menginap di sebuah hotel di kawasan Sosrokusuman dengan dalih kemalaman.

Nah, di dalam hotel inilah guru cabul itu melancarkan aksi. Tersangka melakukan perbuatan cabul dengan cara memeluk dari depan serta menciumi korban. Selanjutnya pelaku meminta korban membuka celana. “Korban ini dioral dan disodomi,” ujarnya.

Bantilan menjelaskan, setibanya di Purworejo, korban tidak langsung melapor. Namun, setelah kejadian itu, korban terlihat depresi. Setelah berselang 10 hari dari kejadian, barulah korban menceritakan perbuatan guru bejat itu kepada keluarga. Kemudian, keluarga korban melaporkan peristiwa itu ke Polsek Grabag.

Namun, oleh pihak polsek diarahkan untuk melapor ke Polresta Jogja, karena tempat kejadian perkara (TKP) berada di Jogja. “Setelah bukti dari visum dan keterangan saksi cukup, pelaku kami tangkap di kediamannya,” jelas Bantilan.

Berdasarkan hasil penyidikan, diduga korban pelecehan sebanyak 9 orang, semuanya merupakan murid pelaku. Modus yang digunakan, tersangka membonceng para siswa lalu memegang kemaluan dan mencium bibir korban. “Semua korbannya berjenis kelamin sama,” jelasnya.

Saat ini, guru tersebut terjerat pasal 76 e Undang-Undang No 35 tahun 2014 subsider Pasal 82 UU No 35 tahun 2014 tentang Perlindungan Anak subsider 292 KUHP. “Ancaman kurungan 10 tahun penjara,” jelasnya.

Kapolresta Jogja Kombes Pol Tommy Wibisono mengimbau kepada para orang tua untuk lebih waspada kepada predator seksual dari kalangan orang terdekat. “Bila itu menimpa keluarga, segera laporkan kepada pihak kepolisian untuk diambil tindakan,” imbaunya.

Kejadian tindak asusila yang dilakukan oleh guru terhadap siswanya tidak kali ini saja terjadi. Selama kurun waktu 2016 di DIJ, setidaknya ada lima kasus besar yang terungkap. Yakni suami kepala TK/PAUD di Sleman melakukan aksi tidak senonoh kepada siswa TK. Tak tanggung-tanggung, ada empat anak yang menjadi korbannya. Seorang kepala sekolah Madrasah Aliyah (MA) Gedongkuning mencabuli siswi MTs di Kotagede hingga hamil. Pencabulan dan persetubuhan terhadap siswi MTs itu dilakukan sejak awal 2016. Ada pula oknum guru SD di Ponjong, Gunungkidul mencabuli anak didiknya.

Kemudian pada November 2016, diketahui seorang Kepala SMK Kesehatan Gunungkidul mencabuli dan menyetubuhi siswinya. Tindakan itu tak hanya sekali dilakukan. Di bulan yang sama, oknum guru SDN Model Sleman menyentuh bagian sensitif siswanya di ruang UKS sekolah.

Belum lagi kekerasan seksual dan pencabulan terhadap anak di bawah umur yang dilakukan oleh orang terdekat. Pada Januari 2016, tiga kasus pencabulan dan perdagangan perempuan di bawah umur terjadi di Sleman. Di bulan yang sama, seorang gadis dipaksa melayani enam hidung belang di Ngagklik, Sleman. Kemudian, sepuluh anak usia SMP menjadi korban sodomi seorang pemuda di Ngemplak, Sleman.

Pada Februari, delapan anak laki-laki dan perempuan menjadi korban pencabulan penjual pecel lele di Depok, Sleman. Di Gunungkidul, satu anak ditemukan tewas di Semanu yang diduga menjadi korban kejahatan seksual. Pada Maret, 15 anak laki-laki di bawah umur jadi korban sodomi di Magelang. Pada April, dua anak perempuan di bawah umur dicabuli oleh lima orang pelaku di Sleman. (bhn/ila/ong)