RADARJOGJA.CO.ID – KULONPROGO – Desa Ngentakrejo dan Gulurejo, Kecamatan Lendah merupakan sentra batik yang cukup terkenal. Tak puas dengan julukan tersebut, warga setempat melakukan promosi agar menjadi desa wisata. Salah satunya dengan menggelar festival Batik On The Street belum lama ini.

Festival tersebut diharapkan mampu menjadi daya tarik wisatawan dating ke sana. Sepuluh perajin batik menampilkan karyanya dalam pawai yang dimulai dari Balai Desa Gulurejo hingga Balai Desa Ngetakrejo.

“Kegiatan juga mengenalkan batik Kulonprogo,” kata pengusaha batik setempat, Phita Kristanti.

Jika dulu batik identik dengan jadul dan tua, sekarang batik sudah masuk ke semua segmen dan usia. “Di Lendah, anak SD diberi pendidikan membatik. Agar batik Kulonprogo lestari dan dikenal luas,” ujar Phita.

Ketua panitia Rahmat Bayu mengatakan kegiatan itu didukung Dinas Pariwisata DIJ. Mengenalkan Gulurejo dan Ngentakrejo sebagai desa wisata batik.

Gulurejo dan Ngentakrejo merupakan desa rintisan wisata unggulan batik. Sedikitnya 20 perajin mengembangkan industri batik di dua desa tersebut.

“Semoga kegiatan ini menjadi pintu masuk wisatawan datang ke Kulonprogo. Batik harus mampu menjadi daya tarik,” kata Rahmat.

Perajin batik Umbuk Haryanto berharap Dinas Pariwisata DIJ rutin menggelar acara tersebut tiap tahun. ‘’Minat masyarakat sangat tinggi,” kata pemilik Farras Batik.

Perajin batik Anggraeny Vita menilai acara itu bias menjadikan batik Kulonprogo menasional. “Batik Kulonprogo memiliki motif klasik. Termasuk motif gebleg renteng, grinsinga, dan galaran yang merupakan batik khas Kulonprogo,” ungkap pemilik Sinar Abadi Batik.

Kepala Dinas Pariwisata DIJ Aris Riyanto mengatakan acara tersebut untuk menarik wisatawan datang. Batik menjadi kebutuhan setiap orang.

“Batik Kulonprogo yang kaya motif harus lebih dikenal. Semoga rintisan desa wisata batik ini diminati wisatawan,” kata Aris.

Kepala Desa Gulurejo Sarjadi mengatakan desanya terdiri 10 pedukuhan dengan 2.215 Kepala Keluarga (KK). Mayoritas penduduknya menjadi pembatik.

Sentra kerajinan Gulurejo tersebar di empat pedukuhan, Gegulu, Sembungan, Mendiro dan Wonololopo. “Rata-rata ibu-ibu hidup dengan membantik. Menjadi buruh batik penghasilannya Rp 25 ribu-Rp 30 ribu per hari,” kata Sarjadi. (tom/iwa/mar)