RADARJOGJA.CO.ID-Sampai saat ini, Timnas Indonesia masih miskin prestasi puncak. Almari PSSI hanya ada Medali Emas Sea Games 1991. Kemudian, Piala Kemerdekaan 2008. Itu pun, didapatkan Bambang Pamungkas Cs tanpa jerih payah. Piala Kemerdekaan berhasil direngkuh setelah Timnas Libya U-21 walkout.

Cerita manis yang bisa dibanggakan Timnas senior selama ini sebatas finalis di tingkat Asean. Baik di even multicabang Sea Games maupun Piala AFF.

Baca juga: https://radarjogja.co/juarai-piala-aff-timnas-diiming-imingi-bonus-besar/
Dimulai Final Piala AFF tahun 2000, Indonesia tumbang ditangan Thailand 1-4. Dua tahun berselang, kembali Timnas sukses melajut ke final. Di partai puncak ini, Thailand seperti menjadi momok menakutkan Timnas. Kali ini, Timnas yang bermain di Stadion Gelora Bung Karno hanya mampu bermain 2-2 di waktu normal 90 menit gagal di babak adu tos-tosan.

Dua tahun berselang, bocah ajaib Boaz Salossa berhasil mengantarkan Timnas sampai partai puncak. Tapi, mental juara Timnas saat mengandaskan perlawanan Harimau Malaysia di Stadion Bukit Jalil, 1-4, tak terulang di final. Bersua dengan Singapura, , Mahyadi Panggabean cs. kalah 1-3 dan kalah lagi, skor 1-2, saat bertandang ke Singapura pada leg kedua.

Empat tahun kemudian, perjuangan Indonesia kembali sukses menembus partai final. Tapi, di babak ini pula sepertinya takdir Indonesia. Malaysia yang menjadi lawan dan pernah ditaklukkan Indonesia di babak penyisihan grup, berhasil menang telak 3-0 dari Indonesia. Cristian Gonzales saat leg kedua hanya mampu membalas 2-1 dan menyerahkan Piala AFF kepada negeri serumpun tersebut.

Final Piala AFF 2016 ini menjadi yang kelima yang seharusnya sudah cukup mengobati penasaran Timnas. Terlebih, skuad asuhan Alfred Riedl kali ini merupakan pemain muda. Sebagian yang merupakan alumni Timnas U-19 bermental juara. Saatnya, mental juara itu memuncak di final. (eri/dem)