RADARJOGJA.CO.ID-Penetapan Kepala Basarnas DIJ Waluyo Raharjo dan calo tanah Dias Ardiyanto sebagai tersangka, penyidik Kejaksaan Tinggi (Kejati ) DIJ di pengadaan tanah untuk Posko, di Gunungkidul, ternyata karena sebuah bukti percakapan.

Asisten Pidana Khusus Kejati DIJ Azwar SH menyebut, penyidik memiliki bukti kuat atas penetapan kedua tersangka. Untuk Waluyo, jaksa memastikan, memiliki peran cukup besar dalam penyelewengan anggaran pengadaan tanah 2015. Ini diperkuat dengan bukti komitmen penerimaan uang sebesar Rp 1,5 miliar. Dari jumlah tersebut Waluyo mendapatkan jatah Rp 160 juta.

“Memang ada bukti perjanjian dan diperkuat melalui percakapan via pesan seluler dan WhatsApp,” tegasnya.

Malang tak dapat ditolak, komitmen fee belum cair utuh, sah calo tanah Dias Ardiyanto yang telah mengantongi Rp 550 juta lari.

Ini tak lepas karena Dias memiliki banyak utang. Uang yang sebenarnya untuk membayar uang muka kepada salah seorang pemilik lahan itu dibawa lari pelaku yang menjadi kuasa jual dari para pemilik lahan.

Calo tanah itu kabur saat dilakukan penandatanganan akta jual-beli di notaris. Padahal, tersangka telah mengantongi uang pembayaran dari Basarnas DIJ.

Alih-alih dapat lahan untuk posko SAR, uang itu ludes digunakan oleh tersangka. “Digunakan untuk membayar utang dan foya-foya,” beber Azwar. (bhn/eri)