RADARJOGJA.CO.ID – SLEMAN – Dinas Kesehatan (Dinkes) Sleman mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap bahaya penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD). Terlebih lagi puncak musim hujan masih sampai Januari tahun depan.

Berdasarkan data Dinkes Sleman hingga pekan pertama Desember ini, terdapat 783 kasus DB. Angka ini diprediksi masih bisa meningkat. Sedangkan angka kasus tertinggi terjadi Februari 2016 hingga mencapai 131 penderita.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman Mafilinda Nuraini mengungkapkan ada beberapa penyebab masih banyaknya kasus DBD. Pertama faktor kesadaran masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan yang harus ditingkatkan. Terutama mencermati genangan air yang tersimpan dalam tandon-tandon air. “Tandon bahkan sampah bisa menjadi tempat berkembang biak nyamuk.Air harus segera dikosongkan agar nyamuk tidak bertelur,” ujarnya kemarin (9/12).
Dari catatan Dinkes Sleman, ada delapan pasien meninggal karena DBD. Dari jumlah itu, hampir seluruh korban tinggal di kawasan padat penduduk. “Di Sleman angka kasus tertinggi ada di Kecamatan Depok, Kalasan, Godean, Gamping dan Kecamatan Mlati,” jelasnya
Linda mengungkapkan ini bisa dari karakter nyamuk aedes aegypti berbeda dari nyamuk lainnya. Proses berkembang biak nyamuk ini justru pada air jernih. Berbeda dengan nyamuk lainnya yang memilih air keruh. Sehingga nyamuk jenis ini dapat dengan mudah berkembang biak di wilayah padat penduduk.

Nah, upaya pencegahannya bisa dilakukan dengan 3M +. Mulai dari menguras penampungan air dan membersihkan secara berkala. Selanjutnya menutup bak-bak penampungan air agar tidak menjadi tempat bertelur.

Yang ketiga adalah mengubur sampah yang mudah terurai. Bisa juga dengan mendaur ulang agar lebih ramah lingkungan. Ditambah dengan pemasangan kelambu atau penggunaan obat nyamuk ramah lingkungan. “Kampanye ini terus didengungkan hingga saat ini. Meski tergolong lama, tapi 3M+ masih sangat efektif dan efisien untuk pencegahan DBD,” katanya.

Dia juga menghimbau warga mengantisipasi penyakit leptospirosis. Penyakit yang disebabkan air seni tikus ini tergolong berbahaya. Langkah antisipasi tentunya sadar akan kebersihan lingkungan. “Genangan air bisa tercemar air seni tikus dan ini bahaya. Penularannya lewat luka terbuka yang terkena air seni. Untuk saat ini masih aman, hanya perlu waspada terutama saat terjadi banjir,” jelasnya. (dwi/din/ong)