RADARJOGJA.CO.ID – KULONPROGO – Pemkot Tanjung Pinang, Kepulauan Riau tertarik dengan cabai Kulonprogo. Mereka ingin mendatangkan cabai petani Kulonprogo untuk memenuhi kebutuhan pasar Tanjung Pinang. Mereka pun menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan Pemkab Kulonprogo kemarin.

Penandatanganan MoU dilakukan di Aula Adikarta Gedung Kaca. Isinya berupa pemberdayaan perekonomian dan perdagangan produk lokal. Acara dihadiri Pj Bupati Kulonprogo Budi Antono dan Walikota Tanjung Pinang Lis Darmansyah.

Lis mengatakan cabai sekilas memang sepele. Namun mampu memengaruhi inflasi daerah. Dalam kondisi normal harga cabai di Tanjung Pinang Rp 70.000 per kilogram. Menjelang Lebaran meroket jadi Rp 100.000 per kilogram.

“Kami perlu menjalin kerjasama dengan Kulonprogo sebagai penghasil cabai. Untuk menekan harga cabai di Tanjung Pinang,” ungkap Lis.

Fluktuasi harga cabai di Tanjung Pinang dipengaruhi rantai pemasaran yang panjang. Cabai dari Kulonprogo sampai Tanjung Pinang sudah melalui tangan ketujuh.

“Hal itu menyebabkan selisih harganya tinggi. Di Kulonprogo Rp 30.000 per kilogram di Tanjung Pinang jadi Rp 80.000 per kilogram. Petani Kulonprogo kurang mendapat keuntungan signifikan karena keuntungan dinikmati tengkulak,” ujar Lis.

Budi Antono menyambut baik kerjasama tersebut. Cabai Kulonprogo merupakan cabai berkualitas tinggi, disukai pasar Tanjung Pinang. “Kualitas baik karena media tanam serta penanaman dan perawatan yang baik pula,” kata Budi.

Kerjasama ini menjadi solusi memenuhi kebutuhan cabai Tanjung Pinang. Diharapkan bisa memberikan keuntungan kedua pihak. “Ini tonggak sejarah untuk kerjasama bidang lainnya, saling menguntungkan,” kata Budi.

Kepala Dispertahut Kulonprogo Bambang Tri Budi Harsono mengatakan penandatangan MoU tersebut dilengkapi payung hukum bagi kelompok Asosiasi Pasar Tani (Aspartan) Kulonprogo. Bekerja sama dengan BUMD Tanjung Pinang dalam pengiriman cabai.

Aspartan merupakan asosiasi yang mewadahi 21 unit pasar lelang cabai Kulonprogo. Teknis pengiriman cabai ke Tanjung Pinang, ditindaklanjuti dengan perjanjian kerjasama Aspartan dengan BUMD Pemkot Tanjung Pinang.

“Pasar cabai dari Kulonprogo yang masuk Jogjakarta hanya sekitar 15 persen. Terbanyak masuk ke pasar induk Kramat Jati Jakarta. Kerjasama dengan Pemkot Tanjung Pinang menjadi pasar baru cabai merah Kulonprogo,” jelas Bambang.

Potensi cabai Kulonprogo, terbagi dua jenis. Cabai besar dengan luas tanam 1.900 hektare dengan produktivitas sembilan ton per hektare. Produksi rata-rata 16 ribu ton per tahun.

“Untuk cabai rawit sekitar 200 hektare dengan potensi produksi yang hampir sama,” kata Bambang. (tom/iwa/mar)