RADARJOGJA.CO.ID – JOGJA – Peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW di Jogjakarta berlangsung meriah, namun tidak menghilangkan suasana sakralnya. Sesuai tradisi, perayaan Maulud Nabi diawali dengan sekaten di Alun-Alun Utara Jogja selama sebulan penuh. Puncaknya, Garebeg Maulud.

Garebeg Maulud yang diselenggarakan oleh Keraton Jogjakarta kemarin (12/12) tak hanya menjadi magnet bagi warga lokal DIJ. Tradisi tahunan tersebut selalu mampu menarik wisatawan luar daerah maupun mancanegara.

Ada tujuh gunungan yang dibuat dalam perayaan Maulud nabi kali ini. Lima di antaranya diarak ke halaman Masjid Gede Kauman Kota Jogja untuk diperebutkan masyarakat. Dua lainnya dibawa ke Puro Pakulaman dan Kepatihan. Tak ayal halaman Masjid Gede disesaki warga sejak pagi buta. Satu tujuan mereka, yakni berebut isi gunungan.

Mayoritas warga masih percaya bahwa setiap bagian dari gunungan akan membawa berkah.

Seperti dikatakan Suryadi, warga Godean, Sleman. Pria paro baya itu datang ke masjid sejak pagi dan segera memilih lokasi di dekat regol, dimana biasanya gunungan lanang ditempatkan. Pilihan Suryadi ternyata tak keliru. Karena dialah yang berhasil mendapatkan puncak gunungan lanang, bagian paling banyak diburu masyarakat. Meski isinya hanya berupa makanan dari gandum yang biasa dikonsumsi. “Nani mau saya sebar di sawah-sawah,” ujarnya sambil terengah-engah usai merayah gunungan.

Sedangkan Maryati, warga Purworejo yang mendapat beberapa helai kacang panjang akan merebusnya untuk dijadikan obat. “Ya obat apa saja,” tuturnya.

Tingginya animo masyarakat yang tak sabar berebut gunungan membuat petugas keamanan berkali-kali memperingatkan warga. Sebelum berebut petugas meminta warga tertib dan menunggu hingga selesai berdoa.

Namun imbauan itu ternyata tak diindahkan. Sekitar pukul 11.15, saat Penghulu Keraton Jogjakarta KRT Ahmad Kamaludiningrat mulai melafalkan doa, warga langsung naik ke atas gunungan. Bahkan, gunungan gepak yang berisi buah-buahan juga jadi rebutan warga. Padahal, gunungan yang akan diusung ke Pengulon Masjid Gede Kauman sedianya untuk dibagikan kepada para abdi dalem keraton.

KRT Ahmad Kamaludiningrat mengatakan, ketujuh gunungan yang dikeluarkan Keraton Jogja merupakan bentuk sedekah dalem dari raja kepada kawulanya. Karena jumlahnya terbatas, maka untuk mendapatkanya harus berebut. “Rebutan gunungan itu juga wujud kebersamaan, berebut rizki Allah,” jelasnya.

Menurut dia, gunungan tersebut menjadi berkah karena sebelum diperebutkan didoakan telebih dahulu. Meminta kepada Allah SWT supaya memberikan keberkahan pada gunungan tersebut.

Kamaludiningrat juga menyebutkan, di dalam Alquran terdapat ajaran satu biji yang ditanam akan berlipat 700. Begitupula dalam cerita Jawa, Nawangwulan yang hanya dengan sebutir padi bisa untuk makan satu keluarga.

“Maknanya, kan simbolis. Kalau ikhlas memberi akan dibalas berlipat-lipat,” tuturnya.

Kendati demikian, Kamaludiningrat mengakui, saat ini masih ada sebagian masyarakat yang beranggapan bahwa isi gununganlah yang membawa berkah. “Berkah itu karena sebelum diperebutkan didoakan, mohon barokah (Allah SWT) supaya bermanfaat lebih banyak,” tegasnya.(ong)