http://Kembangkan Ekowisata Hutan MangroveRADARJOGJA.CO.ID – KULONPROGO – Rencana pembangunan bandara di Temon menjadi semangat untuk mengembangkan potensi wisata Temon. Salah satunya wisata di Desa Jangkaran.

“Kami punya Pantai Congot dan Hutan Mangrove di Pedukuhan Pasir Mendhit dan Pasir Kadilangu yang masih baru,” kata Sekretaris Desa Jangkaran Fajar Pudiarna.

Namun, masih perlu adanya payung hukum yang mengatur objek wisata di sana. Yakni dengan pembuatan Peraturan Desa (Perdes).

“Perdes untuk perlindungan pengelolaan wisata. Pengelolanya masyarakat, harus diberikan perlindungan berupa Perdes agar tidak dicap ilegal,” kata Fajar.

Sementara itu, kedua lokasi hutan mangrove tersebut masuk dalam Rencana Induk Pengembangan Pariwisata Daerah (Riparda) 2015-2025. Termasuk wilayah konsep budidaya udang dan ekowisata hutan mangrove.

“Di Riparda bunyinya seperti itu. Hanya saja yang dibutuhkan pengelola saat ini adalah data usaha pariwisata untuk perizinan,” kata Fajar.

Semua pihak harus bergabung dalam kelompok. Namun belum memungkinkan karena kedua pedukuhan ada empat kelompok. Yakni kelompok Pantai Pasir Kadilangu, kelompok Jembatan Api-Api, kelompok Maju Lestari dan kelompok Wanatirta.

Alokasi Dana Desa (ADD) juga memungkinkan untuk pengembangan wisata mangrove tersebut. “Namun belum ada Musyawarah Rencana Pembangunan Desa (Musrenbangdes) yang membahas pengembangan wisata,” ujar Fajar.

Desa tidak bisa melakukan penganggaran tanpa Muswarah Desa (Musdes). Pemdes melalui tim penyusun Rencana Kerja Pemerintah Desa (RKPD) harus me-review ulang RPJMDes.

‘’Apakah sudah ada pengembangan ekowisata atau tidak? Nampaknya belum ada, karena wisata hutan mangrove atau jembatan mangrove itu baru ada 2015,” kata Fajar. (tom/iwa/mar)