RADARJOGJA.CO.ID – Proyek perumahan untuk pengemis, gelandangan, dan orang terlantar (PGOT) di Gunungkidul semakin tak jelas nasibnya. Bangunan sudah tegak berdiri. Namun sejak dua tahun terakhir, proyek terhenti dan mulai rusak diterjang longsor.

Bangunan dengan jumlah 40 kamar di Padukuhan Doga, Desa Nglanggeran, Kecamatan Patuk tersebut, kondisinya memprihatinkan. Rumah di lereng perbukitan berbentuk 3 baris bertingkat, pada bangunan baris paling bawah tergerus air. Jarak rumah dengan talud ambrol hanya sekitar satu meter.

Sejumlah pondasi rumah tergerus air. Ini terlihat terangkat, karena tanah merekah di setiap sudut bangunan. Pada bagian jendela kaca juga mulai muncul retakan. Dilihat kasat mata, kondisi semua rumah tidak layak huni.

Belum lagi, tak adanya saluran air mengakibatkan air hujan dengan cepat membanjiri bangunan rumah PGOT yang disebut-sebut sebagai proyek percontohan pengentasan kemiskinan di Provinsi DIJ ini. Padahal rencana awal, pada Desember 2015, bangunan ini sudah difungsikan.

Namun dari pintu masuk utama, jalur menuju rumah PGOT masih berantakan. Bila ingin mendekati lokasi menggunakan sepeda motor, memang bisa dilakukan. Namun, wajib berhati-hati, karena batu terjal menyembul di sepajang jalan.

Kades Nglanggeran, Kecamatan Patuk, Senen saat dikonfirmasi mengaku tidak bisa menjelaskan persoalan mangkraknya rumah PGOT. Saat perencanaan, pihak desa hanya menerima sosialisasi. “Itu proyek Provinsi DIJ,” kata Senen, Senin (12/12).

Pemerintah desa sejak lama tidak berkomunikasi dengan Pemprov DIJ, mengenai kelanjutan proyek yang dikenal dengan sebutan “Desaku Menanti”. Semua persoalan mengenai proyek, Senen kembali menjawab tidak tahu.

“Setahu saya, bangunan itu belum layak digunakan, karena sarana dan prasarana belum memadai,” ujarnya.

Ia mencontohkan, instalasi listrik, saluran air, dan sarana infrastruktur ke lokasi belum ada.Mau tidak mau, kondisi tersebut membuat pemdes ikut mikir. Persoalan longsoran pernah disampaikan dan ditindaklanjuti Tagana.

“Kami berharap proyek ini diperjelas. Bangunan itu sebenarnya untuk apa. Kalau ada perubahan fungsi atau bagaimana ya semua sarana dan prasarana dicukupi agar tidak membahayakan ketika dihuni,” pintanya.

Kepala Dinas Sosial Provinsi DIJ Untung Sukaryadi belum bisa dikonfirmasi. Saat dihubungi melalui sambungan telepon dan pesan singkat SMS, tidak ada respons.

Di bagian lain, persoalan proyek pembangunan rumah PGOT direspons Pemkab Gunungkidul. Pemkab pernah mengirimkan surat ke Pemprov DIJ, agar mengkaji ulang pembangunan rumah PGOT. Alasannya, perumahan untuk gelandangan itu memiliki kemiringan 40 derajat dan dikhawatirkan rawan longsor.

Selain itu, dalam pembangunan seharusnya melakukan kajian tata ruang secara detail. Pihaknya, berharap pemprov menindaklanjuti masalah ini.

No coment,” kata Kepala Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Gunugnkidul Dwi Warna, saat dimintai tanggapan lebih lanjut.(gun/hes)