Dulu, Hasil Bumi Dicacah dan Dibagi Rata, Bukan Diperebutkan

Garebeg Maulud menjadi tradisi turun-temurun di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Sebagai ungkapan syukur atas rezeki Tuhan Yang Maha Esa. Dari tujuh gunungan yang disiapkan, satu di antaranya diboyong ke Pura Pakualaman.

DWI AGUS, Jogja

Pemandangan di istana Kadipaten Pura Pakualaman kemarin (12/12) tak beda dengan halaman Masjid Gede Kauman Kota Jogja.

Ribuan orang memadati halaman kadipaten sejak pagi. Mereka menanti gunungan hasil bumi dari keraton. Warga bersiap untuk berebut isi gunungan yang dipercaya mengandung berkah. Meski hanya mendapat potongan kecil hasil bumi, seperti kacang panjang, cabai merah, atau kemiri.

“Hampir setiap garebeg datang ke sini (Pakualaman). Dulu biasanya ke Masjid Kauman, tapi terlalu ramai. Cuma cari berkah, sekaligus mengenalkan cucu akan tradisi Jogjakarta,” kata Slamet Paryono,51, warga Sleman.

Adalah gunungan kakung yang dikirab ke Pura Pakualaman. Rutin digelar tiap tahun, tradisi berebut isi gunungan tak lagi asing bagi warga. Pengunjung yang hadir pun beragam. Ada tua, muda, remaja, hingga anak-anak.

Prosesi ritual berebut isi gunungan ini ternyata bukanlah adat yang sejatinya diajarkan oleh pewaris tradisi.

Penghageng Kawedanan Budaya lan Pariwisata Kadipaten Pakualaman Kanjeng Pangeran Haryo (KPH) Indrokusumo menjelaskannya.

Dulu, kata Indrokusumo, isi gunungan dicacah dan dibagikan secara tertib kepada warga. Bukan diperebutkan secara semerawut. Itulah sejarah awal kirab gunungan Maulud Nabi.

“Jadi gunungan itu diantarkan ke Pakualaman untuk diterima terlebih dahulu. Selanjutnya dicacah dan dibagi sama rata oleh lurah setempat. Cacahan ililah yang kemudian disebar ke kebun pekarangan dan sawah agar hasil bumi melimpah,” jelas pria yang akrab disapa Kanjeng Indro.

Sosok yang juga menjabat sekretaris umum KONI DIJ sedikit menyayangkan aksi berebut gunungan. Terlebih untuk mendapatkan isinya warga harus berjibaku dengan memanjat gunungan. Akibatnya, tak semua warga yang datang ke Pakualaman kebagian hasil bumi. Meskipun hanya secuil.

Kendati demikian, Kanjeng Indro tak lantas mengiyakan soal kemungkinan dikembalikannya prosesi berebut gunungan ke khitahnya. Hal itu tidaklah mudah. Karena harus mengubah cara pandang masyarakat.

Sejauh ini Kanjeng Indro sudah mencoba untuk mengenalkan sejarah asli prosesi gunungan kepada masyarakat. Terutama di kalangan lurah yang belum tentu mengenal sejarah gunungan garebeg.

“Banyak yang tak paham sejarah itu. Cacah hasil bumi itu sebagai harapan agar hasil panen melimpah. Apalagi lahan pertanian di perkotaan saat ini tidak seluas dulu,” paparnya.

Kembali ke sejarah gunungan, Kanjeng Indro menuturkan, ada tujuh buah yang merupakan pemberian Raja Keraton Jogjakarta. Dulunya, jumlah gunungan lebih banyak. “Bisa mencapai 18 gunungan garebeg,” ucapnya.

Belasan gunungan garebeg dibagikan ke semua ndalem kepangeranan.

Seiring berjalannya waktu, jumlah gunungan menyusut. Nah, agar pembagiannya merata untuk semua warga, isi gunungan dicacah. Para lurah ditunjuk sebagai perwakilan warga. Merekalah yang akan menerima pembagian isi gunungan untuk disebarkan ke sawah-sawah warga.

Dalam kesempatan itu, Kanjeng Indro juga mengungkapkan arti penting keberadaan para pangeran.

Konon, pada zaman dahulu sebutan pangeran bukanlah sebatas gelar dari keraton. Setiap pangeran memiliki tugas membina masyarakat di lingkungannya.

Karena itulah para pangeran diberi sebagian limpahan rezeki hasil bumi yang diperoleh raja. “Saat ini nama-nama pangeran itu diabadikan sebagai perkampungan. Seperti Pugeran, berasal dari Pangeran Puger. Mangkuyudan, Pangeran Mangkuyudha, dan masih banyak lagi,” tuturnya bercerita.

“Gunungan merupakan hajat sinuhun, sedekah mengucap syukur kepada Allah,” sambung Kanjeng Indro.

Lebih lanjut Kanjeng Indro mengisahkan, di era Sri Sultan Hamengku Buwono IX jumlah gunungan sempat berkurang drastis. Kala itu hanya satu gunungan yang diantar ke Masjid Kauman. Ini terjadi karena ada peperangan dengan penjajah Jepang.

Keraton kembali mengantar gunungan ke Pura Pakualaman pada 1984. Pada 2012 keraton juga memberikan gunungan ke Kepatihan, kantor pusat Pemprov DIJ.

“Gunungan garebeg juga merupakan wujud pelestarian kekerabatan antara Keraton dan Pakualaman. Suatu ikatan kebersamanaan sebagai lembaga pelestari adat dan budaya di Jogjakarta. Tradisi ini tetap kami jaga dengan mempertahankan nilai dan filosofinya,” paparnya.

Dalam setiap pagelaran kirab gunungan, dua ekor gajah dan dua bregada Pakualaman, Plangkir dan Lombok Abang tak pernah absen mengawal gunungan dari keraton. Pasukan ini berjalan hampir 3 kilometer. Diikuti para abdi dalem punakawan Keraton Jogjakarta. Masih ditambah pasukan berkuda para pangeran Kadipaten Pakualaman.(0ng)