RADARJOGJA.CO.ID – Upaya melawan demam berdarah dangue (DBD)terus dilakukan Dinas Kesehatan (Dinkes) Gunungkidul. Bahkan, dinas ini menerjunkan petugas kesehatan ke lapangan.

Selain itu, petugas medis puskesmas juga diminta siaga melakukan penanggulangan terhadap penyakit mematikan tersebut.

“Data kasus DBD tahun ini meningkat tajam dibandingkan tahun sebelumnya. Potensi penyebaran penyakit juga meningkat, seiring perubahan cuaca ekstrim,” kata Kepala Dinkes Gunungkidul Agus Prihastoro, Senin (12/12).

Pada 2016, tercatat ada 1.081 kasus DBD dengan korban meninggal 4 orang. Jumlah tersebut meningkat dibanding 2015 yang hanya 486 kasus dengan empat korban meninggal.

Menurut Agus, DBD masih mengerikan. Karena prosentase penurunan kasus per bulan belum dalam jumlah yang aman.Terlebih, jumlah kasus DBD setiap tahun meningkat. Pada 2013, terjadi 353 kasus dengan satu meninggal. Sebelumnya, Tahun 2014 sebanyak 379 kasus dengan dua meninggal. Sementara tahun ini, jumlah korban meninggal bisa ditekan.

“Upaya kami, adalah menyiapkan seluruh personel kesehatan. Bahkan, setiap puskesmas siap siaga dalam melakukan penanggulangan terhadap DBD,” jelasnya.

Selain itu, masyarakat diminta berperan aktif melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dengan cara 3M+. Ini dinilai paling efektif menekan jumlah kasus DBD. Selain PSN, fogging juga diterapkan untuk wilayah dengan jumlah DBD tertinggi.

Kepala Bidang Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Dinkes Gunungkidul dr Sumitro mengingatkan, masyarakat tidak perlu melakukan fogging secara swadaya. Karena bisa berbahaya, jika dilakukan mereka yang awam.

“Fogging tidak dianjurkan untuk dilakukan dalam pemberantasan nyamuk. Apalagi fogging swadaya, orang yang tidak paham waktu yang tepat untuk fogging, sampai cara dan dosis,” papar Sumitro.

Sumitro minta agar upaya menekan kasus DBD dari masyarakat dilakukan dengan PSN. Yakni, menerapkan 3M plus. Mulai dari menutup, menguras, dan mengubur barang-barang yang berpotensi menjadi sarang nyamuk.(gun/hes)