RADARJOGJA.CO.ID – JOGJA – Seorang pegawai Kejaksaan Negeri (Kejari) Sleman berinisial HR, ditang-kap Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) DIJ. Pegawai yang bertugas mengawal ta-hanan ini kedapatan men-jadi kurir sabu bagi tahanan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Narkoba kelas IIA di Pakem, Sleman.

Kepala BNNP DIJ Kombes Pol Mardi Rukmiyanto menuturkan, paket sabu yang didapat dibe-rikan kepada tahanan usai menjalani persidangan di Pengadilan Negeri (PN) Sleman.

Sabu yang sudah dikemas kecil-kecil itu dimasukkan ke dalam plastik, kemudian dilak-ban dan dimasukkan dalam plastik lagi. Bungkusan berlapis itu, se-lanjutnya disimpan ke dalam kondom.

“Modusnya dengan memasukkan paket sabu mel-alui dubur tahanan,” kata Mardi di kantor BNNP DIJ, ke-marin (13/12).

Sebagai penga-wal tahanan, petugas itu me-miliki keluasaan berinteraksi dengan para para terdakwa. Keleluasaan ini yang diman-faatkan oleh pelaku guna ber-bisnis barang haram dengan para tahanan.Aksi HR mulai terendus dari pengakuan seorang tahanan berinisial BM. Ketika itu, HR memberikan paket sabu ke-pada BM untuk diantarkan ke Lapas Narkotika Pakem.

Nah, sebelum kembali ke lapas, HR mengawal BM untuk ke kamar mandi. Di dalam kamar mandi ini, kondom berisi bungkusan itu dimasukan ke dalam dubur.Setelah melakukan pengin-taian, tim menangkap pelaku saat berada di depan Masjid Agung Sleman, tak jauh dari tempat HR mengabdi (1/12). Dari tangan pelaku juga di-sita 71 gram paket sabu.

“Tim menguntit HR dari rumahnya di Klaten, Jawa Tengah,” je-lasnya.Setelah diinterogasi, HR mengaku sebagai pegawai ke-jaksaan. Kemudian tim dari BNNP DIJ menggiringnya ke kantor kejaksaan. Mereka dite-mui Kepala Seksi Intelijen, Ke-pala Seksi Pidana Khusus dan Pidana Umum. “Dari pengakuan pelaku sudah 10 kali memasukkan sabu ke-pada tahanan,” jelasnya.

Sete-lah penangkapan oknum pe-gawai kejaksaan itu, tim ber-gerak ke rumah pelaku di Klaten. Di kediaman pelaku, ditemukan bong, pipet, korek api, plastik bekas bungkus sabu dan lain-lain. Bahkan, jelasnya, hasil tes urine tersangka saat penang-kapan positif mengandung amphetamin.

“Kami masih kejar siapa pemasok sabu ke HR,” tandasnya.

Atas perbuatannya, terangka dikenakan pasal 114 ayat (2) atau pasal 112 ayat (2) atau pasal 115 ayat (2) atau pasal 127 ayat (1) Undang-undang nomor 35 tahun 2009 tentang narkotika. Sememtara itu Kepala Bidang Pemberantasan BNNP DIJ Mujiyana memaparkan hing-ga pertengahan Desember ini menangani 18 kasus penya-lahgunaan narkoba.

Padahal targetnya hanya 15 kasus saja.Dia mengimbau kepada ma-syatakat untuk melapor ke-pada kepolisan bila melihat warga yang melakukan per-buatan penyalahgunaan nar-koba. Sebab sanksi yang akan diterapkan akan cukup berat bagi pengguna dan pengedar. “Pada 2017 kami tidak lagi memfasilitasi rehab bagi peng-guna narkoba,” jelasnya.

Kepala Lembaga Pemasya-rakatan Narkotika Kelas II Jogjakarta Erwedi Supriyanto menegaskan pihaknya akan melakukan pengetatan guna mengatisipasi masuknya nar-koba ke dalam lapas.

Keja-dian itu, akan dijadikan pe-lajaran guna peningkatan keamanan. “Saat keluar masuk tahanan sudah diperiksa dengan ketat, termasuk ditelanjangi,” te-rangnya.

Dia tidak menampik adanya upaya untuk meny-eludupkan narkoba ke dalam lapas. Diakui usaha penyeludupan narkoba dilakukan dengan berbagai cara, mulai dengan dilempar bola ke dalam Lapas serta melalui drone. “Bila ada modus melalui dubur, tentu pemeriksaannya akan ke arah sana,” jelasnya. (bhn/laz/ong)