Agus Riyanto Tak Menyangka Guyonan Si Bungsu Berbuah Takdir

Firasat bakal kehilangan buah hatinya telah dirasakan Agus Riyanto, ayah Adnan Wirawan Arsiyanta,16, korban pembacokan gerombolan klithih di Jalan Imogiri-Panggang, Dusun Lanteng, Selopamioro, Imogiri, Bantul, Senin (12/12). Kepergian Adnan tentu meninggalkan duka bagi keluarga dan kerabat.

BAHANA, Sleman
AGUS tak menyangka guyonan Adnan yang berpamitan untuk pergi lama ternyata menjadi syarat kepergian si bungsu untuk selama-lamanya.

“Iya, dia (Adnan) pernah pamitan kepada anak adik ipar (sepupu) kalau dia mau pergi lama,” kenang warga Dusun Bayen, Purwo-martani, Kalasan, Sleman itu di sela pemakam-an Adnan kemarin (14/12).

Guyonan itu seolah menjadi firasat namun tanpa disadarinya. Sang ayah yang mende-ngar cerita itu sebelum kepergian Adnan, menganggap hanya sebagai candaan. Apa-lagi, kondisi Adnan sebelum berangkat liburan bersama teman-temannya ke Pantai Ngandong, Gunungkidul dalam keadaan sehat wal afiat.

[ad id=”37015″]
Menurut Agus, sebagian teman Adnan juga merasakan ada yang tak biasa pada diri Adnan. Selama berada di Pantai Ngandong Adnan tidak banyak berbaur dengan teman lainnya. Ini bukan kebiasaan siswa kelas X IPS-2 SMA Muhi Jogja itu.

Berdasarkan keterangan beberapa teman Adnan, kata Agus, putera keduanya itu lebih banyak menyendiri. Padahal saat itu teman-teman yang lain tampak bersenang-senang menikmati suasana pantai.

“Yang lain pada gojeg, anak saya menyendiri. Apa mungkin melamun karena pertanda tak-dir mau menjemput. Saya tidak tau,” tuturnya lirih.Usai menghela nafas panjang, Agus meng-ungkapkan, nyawa puteranya tidak bisa di-selamatkan karena pendarahan serius pada organ dalam.

Tusukan benda tajam di bagian pinggang sebelah kanan itu mengenai ginjal yang mengakibatkan pendarahan.Dokter yang menangani berencana meng-operasi Adnan sekitar pukul 19.00. Namun takdir berkata lain. Ketika dokter sedang mempersiapkan peralatan operasi, kondisi Adnan justru makin kritis
“Sudah dibantu dengan alat pacu jantung, tapi kondisinya tidak tertolong lagi,” katanya pilu.

Adnan dirawat intensif di ruang Intensive Care Unit (ICU), Ruang Carelus 224, RS Panti Rapih.Meski berat hati, Agus mengaku ikhlas atas kepergian puteranya itu.

Satu pesannya bagi pendidik-an di Kota Jogja. Agar jangan ada lagi kejadian serupa di wilayah DIJ.Menurutnya, rivalitas antar-sekolah kerap kali mengarah pada tindak kekerasan oleh para pelajar.

“Harus dicari benang merahnya supaya jangan sampai menjadi dendam ke adik-adik kelas,” harapnya.

Di mata teman-teman sejawat-nya, Adnan dikenal sebagai sosok pendiam.

“Tapi bila tertawa, suara-nya paling keras. Di sekolah biasa saja dan tidak nakal,” ungkap Salza Safira, salah seorang teman sekelas Adnan.

Sebelum kejadian, dirinya sempat diajak berlibur ke Gunungkidul, namun Salza menolak.Setelah kejadian itu, lanjut Salza, wali kelas sudah menyampaikan pesan kepada para murid untuk menjaga emosi dan tidak memper-panjang persoalan.

“Biarkan proses hukum yang berjalan jangan sampai kita ikut-ikutan masuk penjara,” ujarnya menirukan pe-nuturan wali kelasnya. (yog/ong)