RADARJOGJA.CO.ID – JOGJA – Kapolda DIJ Brigjen Pol Ahmad Dofiri membantah adanya kemungkinan unsur suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) dalam kasus penyerangan siswa SMA Muhammadiyah 1 (Muhi) Kota Jogja oleh gerombolan klithih di wilayah Selo-pamioro, Imogiri, Bantul, Senin (12/12).

“Tidak ada sama sekali. SARA bagaimana, pelaku-nya saja muslim, kok,” tegas-nya usai rapat koordinasi pengamanan Natal dan pergantian tahun di gedung DPRD DIJ kemarin (14/12).

Kendati demikian, Dofiri mengakui bahwa hingga kemarin jajarannya belum bisa menyimpulkan motif penyerangan dan pembacokan tersebut. Meskipun petugas dari Polres Bantul berhasil menangkap dan memeriksa sepuluh terduga pelaku hingga kemarin siang.

BACA: Pembacok Siswa SMA MUHI, 10 Ditangkap, 9 Dititipkan di Lapas Pajangan
BACA: Adnan Wirawan Ardianto, Anak SMA MUHI Akhirnya Meninggal Ditebas Sajam
Dari hasil pemeriksaan sementara, kata Dofiri, aksi penyerangan terhadap siswa SMA Muhi berawal dari saling lirik mata sewaktu berpapasan di jalan
“Sama dengan kejadian yang sudah-sudah. Di jalan lirik-lirikan, lho, kok dilirik, kemudian balik mengejar,” jelasnya.

Mengomentari perilaku gerom-bolan klithih yang telah memper-senjatai diri dan mengenakan penutup wajah, Dofiri enggan berspekulasi. Jenderal bintang satu itu tak menampik adanya pelajar yang sengaja menyiapkan senjata, kapanpun dan dimana-pun. Namun, tidak ada yang tahu senjata tajam disimpan dimana sewaktu jam pelajaran.

“Tapi begitu pulang sekolah alat itu ada. Yang jelas dari pemeriksaan awal karena lirikan mata,” tegasnya.

Di bagian lain, kapolda telah menyiagakan personelnya untuk mewaspadai kemungkinan aksi balas dendam siswa SMA Muham-madiyah 1 (Muhi) Kota Jogja sebagai dampak meninggalnya Adnan Wirawan Ardiyanta akibat aksi klithih gerombolan pelajar lain.

Dofiri mengaku telah berkoor-dinasi dengan pihak-pihak terkait. Termasuk Pengurus Wilayah Muhammadiyah (PWM) DIJ.

“Kami sikapi dengan bijak untuk meredam ke dalam supaya tidak timbul balas dendam,” ujar mantan Kapolresta Jogja itu.

Kapolda mewanti-wanti semua pihak, balas dendam tidak akan menyelesaikan masalah. Tin-dakan itu justru makin memper-keruh suasana.

Dikatakan, jajarannya telah bekerja maksimal untuk meng-ungkap kasus penyerangan siswa Muhi Jogja di wilayah Selopamioro, Imogiri, Bantul ini.

“Mereka semua kami periksa. Kalau unsur-unsurnya cukup, semua tersangka kami tahan,” tegas Dofiri.

[ad id=”34932″]
Kapolda berjanji, bila alat bukti dipandang cukup semua yang terlibat bakal diproses secara hukum.Polisi menggunakan pasal-pasal pidana dalam Undang-Undang Perlindungan Anak. Ini karena pelaku yang diduga terlibat se-muanya masih di bawah umur.

Ada perbedaan hukum acara orang dewasa dengan anak yang terlibat perkara pidana. Misalnya untuk penyidikan, pihaknya dibatasi waktu selama 15 hari. Dalam kurun waktu tersebut berkas acara pe-meriksaan (BAP) harus sudah dikirimkan kepada jaksa selaku penuntut umum (JPU).

“Penahanan terhadap tersangka yang masih anak-anak tidak boleh dicampur dengan orang dewasa. Harus terpisah. Kami akan laksa-nakan semua ketentuan tersebut,” janji pejabat tinggi Polri asal Indramayu ini.

Mantan Kapoltabes Jogja itu berharap dalam menangani per-soalan remaja tersebut bukan hanya menjadi tanggung jawab polisi. Dia minta ada perhatian dan partisipasi semua pihak. “Ini persoalan kita semua,” imbaunya.

Terpisah, Ketua DPRD DIJ Yoeke Indra Agung Laksana juga mena-ruh kepedulian terhadap kasus tersebut. Dia merasa prihatin dengan terjadinya kenakalan remaja yang berdampak pada kriminalitas.

“Perlu antisipasi dini. Masalah itu mengusik kita semua terutama dengan predikat Jogja sebagai kota pelajar,” katanya.

Yoeke setuju perlunya pena-nganan secara komprehensif. Elemen yang terlibat bukan hanya dunia pendidikan. Namun juga masyarakat secara luas. “Kami mendukung semua upaya pence-gahan maupun pendidikan. Dewan back up penuh,” janjinya.

Ketua Komisi A DPRD DIJ Eko Suwanto sepakat mereka yang terlibat diproses hukum secara tegas. Setelah proses hukum tuntas, Eko minta agar para pelaku mendapatkan pendampingan dalam rangka rehabilitasi. “Apa-pun juga mereka adalah anak-anak kita yang punya masa depan,” pesannya. (pra/kus/yog/ong)