RADARJOGJA.CO.ID-Kemenangan Timnas Indonesia 2-1 atas Timnas Thailand di Stadion Pakansari, Bogor, di leg pertama Rabu (14/12) lalu memang belum menggaransi juara. Tapi, dengan melihat proses dan semangat anak asuh Pelatih Alfred Riedl, kebanggaan terhadap 23 pemain tersebut tak akan pudar.

Terlebih, 23 pemain tersebut bukanlah yang terbaik dari masing-masing posisi. Hal tersebut tak lepas dari kesepakatan PT Gelora Tri Sula (GTS) selaku operator Indonesian Soccer Championship (ISC) dengan klub peserta. Tactician asal Austria tersebut hanya boleh memanggil maksimal dua pemain di tiap klub.

Padahal, seperti di liga-liga elit, pemain terbaik biasanya tidak menyebar merata di masing-masing klub. Tengok saja, di Liga Spanyol atau Italia. Pelatih memboyong pemain-pemain yang sudah klop di klub. Seperti Antonio Conte saat menukangi Timnas. Ia mempertahankan lini belekang Juventus. Dari mulai penjaga gawang Gianlugi Buffon serta tiga menara, Giorgio Chiellini, Leonardo Bonuci, dan Andra Barzagli.

Begitu pun dengan Spanyol, hampir semua pilar Barcelona selalu menduduki posisi starting line up. Saat merengkuh gelar Piala Dunia, ada dua center back Barca, Gerard Pique dan Carles Puyol. Di lini tengah, duet Andres Iniesta dan Xavi Hernandes tetap dipertahankan.

Di Indonesia, pasangan pemain ini tentunya juga banyak. Seperti di Arema Malang, Kiper Kurnia Mega Hermansyah tentunya akan lebih padu saat ada Hamka Hamzah. Begitu pun, dengan duet Boaz Salossa di Persipura Jayapura sangat kompak dengan Fernando Pahabol.

Tapi, mengambil pasangan di masing-masing ini tak menjadi pilihan Alfred Riedl. Eks pelatih Vietnam memilih memanggil pemain yang memiliki semangat tinggi. Ini terlihat dari 23 pemain yang dipanggil. Masing-masing pemain memiliki tipikal semangat pantang menyerah. Sebuah senjata ampuh bagi Riedl.

Skuad Timnas yang ada saat ini memiliki semangat spartan. Mereka adalah generasi emas yang mengalami pasang surut dari kompetisi Liga Indonesia. Dimulai dari Boaz, sang kapten. Selalu bermain untuk Persipura, Boaz akhirnya rela untuk pindah klub di Pusamania Borneo FC di Piala Jenderal Sudirman. Kemudian, ia berkarir di Liga Timor Lesta sebelum ISC bergulir.

1 2