RADARJOGJA.CO.ID-Sejarah dunia hitam prostitusi di Kota Jogja selangkah lagi tinggal kenangan. Penutupan lokalisasi di Kota Jogja tinggal menunggu iktikad baik dari warga di Pasar Kembang. Ini setelah lokalisasi di Sanggrahan sudah benar-benar tutup.

Bahkan, warga Mrican, Giwangan, Umbulharjo, nama lengkap Sanggrahan, telah mendeklarasikan daerahnya bebas prostitusi. Ini setelah empat mucikari yang sebelumnya masih praktek memperdagangkan pekerja seks komersial (PSK) sudah bertobat.

Komitmen tersebut akan diwujudkan dalam deklarasi kampung bebas prostitusi, sekaligus pengajian warga yang akan digelar sabtu malam (17/12). “Malam minggu nanti kita akan gelar pengajian sekaligus pernyatan bersama komitmen bebas prostitusi,” ujar Sekretaris RW 08 Mrican Suwarto.

Untuk memberdayakan mucikari maupun PSK, warga setempat membentuk tim kecil yang secara swadaya membuatkan usaha rintisan, yang akhirnya bisa menarik satu mucikari untuk berjualan angkringan. Keberhasilan tersebut ternyata menarik perhatian empat mucikari lain dan akhirnya semua bersepakat untuk beralih profesi. Untuk satu mucikari, dibutuhkan biaya Rp20 juta sampai 30 juta supaya mau beralih profesi.

Meski sudah berhasil membuat mucikari beralih profesi, Suwarto menjamin tidak akan meninggalkan mereka. Pendampingan pada bekas mucikari tersebut akan terus dilakukan, bersama instansi Pemkot Jogja. “Kalau kami sendiri jelas tidak mampu, makanya ada kerjasama dengan Pemkot Jogja,” ujarnya.

Sebelumnya Kepala Badan Perencanaan Pembagunan Daerah (Bappeda) Kota Jogja Edy Muhammad mengatakan dalam pengentasan PSK dan mucikari, pihaknya tidak akan langsung masuk, tapi menunggu itikad dari masyarakat setempat.

Seperti di Mrican, Edy mengatakan disana masyarakatnya yang berkeinginan untuk membebaskan wilayahnya dari praktek prostitusi. Keinginan dari warga itu juga yang untuk meminimalkan gejolak sosial. “Syarat utamanya ada keinginan dari warga setempat supaya kampungnya bebas prostitusi,” jelasnya. (pra/eri)