RADARJOGJA.CO.ID-Penggunaan pasal di Undang-Undang Perlindungan Anak terhadap pembunuh Adnan Wirawan Arisyanta menuai penyesalan banyak pihak. Pengurus Wilayah Muhammadiyah (PWM) DIJ yang mengambil-alih advokasi terhadap korban aksi klithih dari SMA Muhammadiyah I Kota Jogja pun menyesalkan sikap kepolisian.

“Kebetulan pelakunya anak-anak tetapi melihat problem ini serius jangan sampai terkesan tidak ada efek jera karena ringannya hukuman,” ujar Ketua PWM DIJ Gita Danupranata dalam jumpa pers di kantor PWM DIJ.

Ketua Pendidikan Dasar dan Menengah PWM DIJ Arif Budi menambahkan, peristiwa penyerangan terhadap siswa SMA Muhi tidak lagi tergolong kenakalan remaja. Apalagi, dari pengakuan di hadapan penyidik, senjata tajam selalu mereka bawa tiap keluar rumah. Itu mempertegas, jika pelaku sengaja membuat onar. Artinya, sudah masuk ranah kriminal.

Untuk itu PWM mnedukung pemberian hukuman bagi para pelaku, meski amsih dibawah umur. “Selama ini kekerasan terus berulang karena penegakan hukum yang lemah,” ujarnya.

Gita mengatakan mengembalikan kondusifitas Jogja menjadi pekerjaan rumah bersama warga. Muhammadiyah juga siap bersinergi dengan Kepolisian untuk mengkondisikan supaya persoalan tidak melebar. Menurut dia saat ini yang mendesak dilakukan adalah meyakinkan kembali keamanan di DIJ.

“Sekarang sudah banyak orangtua yang mencemaskan kondisi anaknya yang sedang belajar di DIJ,” tuturnya. (pra/eri)
[ad id=”38614″]