Pegang Teguh Pancasila, Generasi Muda Penggerak Bangsa

Generasi muda memiliki peranan penting dalam membangun bangsa dan negara. Sehingga sudah sewajarnya, pemuda memiliki integritas tinggi dalam hidupnya.

DWI AGUS, Sleman
Balai Desa Condongcatur Selasa malam (13/12) diserbu ribuan orang. Kedatangan massa dari berbagai penjuru ini untuk menyaksikan penampilan Kiai Kanjeng bersama Emha Ainun Najib.

Malam itu pria yang akrab disapa Cak Nun ini memberikan siraman rohani berlatar belakang keadaan Indonesia saat ini. Menurutnya tidak ada tawar menawar untuk kedaulatan bangsa. Termasuk alasan untuk memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa saat ini.

“Isu-isu yang digulirkan saat ini cukup sensitif dan berbahaya jika dimaknai secara asal. Harus ingat bahwa kita itu Indonesia yang berlandaskan Pancasila. Amalkan dan dalami setiap sila Pancasila bagi semua elemen masyarakat,” ujarnya.

Menurutnya Pancasila tidak bisa dimaknai secara terpisah. Sila-sila ini memiliki keterkaitan yang saling menguatkan. Disinilah peran generasi muda memegang andil besar bagi kemajuan atau kemunduran suatu bangsa.

Cak Nun berharap generasi muda benar-benar memahami Pancasila. Idiologi ini merupakan tonggak yang disusun oleh para pendiri bangsa Indonesia. Perumusan setiap sila juga menggambarkan keberagaman dan kerukunan antarumat, suku dan ras di Indonesia. “Semua sila itu goalnya adalah sila kelima yaitu Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Pancasila itu bagian dari Islam, secara kenegaraan bangsa juga bagian dari Islam,” jelasnya.

Suami Novia Kolopaking ini juga mengajak warga berpikir ala wong Jowo. Selalu menerima keadaan hidup dan tidak pernah neko-neko. Salah satunya adalah sifat mengalah untuk menjaga keharmonisan lingkungan.

Wong Jowo dalam konteks ini bukanlah suku. Cak Nun menjelaskan cara berpikir Wong Jowo sudah ada sejak zaman dahulu. Bahkan tergolong sebagai warisan kearifan lokal. Sayangnya saat ini mulai tergerus oleh pla pikir modern dan kemajuan jaman. “Misal menanamkan empati dan simpati pada diri sendiri. Jika sudah mengalah yang jangan diinjak terus. Harus mampu menguatkan diri dalam perkembangan nasional saat ini. Ditengah maraknya arus globalisasi dan hedonisasi pada generasi muda saat ini,” katanya.

Cak Nun mengajak masyarakat kembali pada nilai kearifan lokal. Nilai kebudayan menurut Pria kelahiran Jombang 27 Mei 1953 ini adalah cara membentengi diri. Terutama dari terpaan pola pikir yang tidak sesuai dengan adat ketimuran.

Condongcatur tergolong sebagai kawasan pedesaan dan perkotaan. Berhadapan langsung dengan modernisasi dan globalisasi, sejatinya rentan. Terutama bagi warga yang mudah terhanyut dalam hingar bingar urusan duniawi. “Biasanya kalau sudah tersentuh modernisasi, kenikmatan budaya menurun. Menganggap budaya dan kearifan lokal itu kuno. Padahal bukan itu caranya, justru kearifan lokal adalah pegangan penting bagi kita,” tegasnya.

Di sinilah peran anak muda untuk bertindak. Dia meyakini potensi budaya mampu menjadi kebanggan tersendiri. Tentunya perlu peran seluruh elemen masyarakat untuk membudayakan. Salah satu upaya dengan forum komunikasi rutin di kalangan masyarakat. “Saya yakin Desa Condongcatur bisa menjadi uswatun khasanah bagi desa lainnya. Potensi dari generasi muda hingga kearifan lokal sangat melimpah. Hanya perlu diasah, dikawal dan diberi semangat agar kearifan ini tetap lestari,” katanya.

Kepala Desa Condongcatur Reno Candra Sangaji mengatakan, anak muda adalah tonggak suatu daerah. Peran serta memajukan potensi, mayoritas dilakukan oleh generasi muda.

Kepala desa yang tergolong muda ini mendorong agar warga desanya bergerak. Terutama generasi muda dalam melihat dan mengemas potensi yang ada. Caranya dengan menggelar beragam kegiatan secara mandiri dan sistematis. “Jadi kegiatan tidak hanya untuk hari ini, tapi ada tujuan jangka panjangnya. Sudah saatnya yang muda bekerja keras memajukan desa Condongcatur,” tegasnya.

Reno mengakui dinamika di wilayah pemerintahannya sangat tinggi. Mulai dari masuknya mall besar, perhotelan hingga warga beragam latar belakang. Jika tidak membekali diri, maka akan mudah terpengaruh terpaan.

“Silahkan pergi ke kafe tapi jangan lupa untuk mampir ke cakruk. Menjadi manusia yang modern tidak harus meninggalkan jati diri. Justru harus bangga menjadi diri sendiri sebagai identitas karakter diri,” ujarnya. (din/ong)