Menurutnya, sejak jauh hari perlu ada pertemuan dan mediasi yang mempertemukan semua pihak. Sebab jika waktunya mendadak hasilnya akan tidak maksimal. “Harusnya ada itikad baik dari semua pihak sejak jauh-jauh hari. Sebagai tuan rumah, kami harap mereka (BCS) menahan diri dulu. Kami paham jika mereka ingin hadir ke Solo. Tapi demi menjaga hal-hal yang tidak diinginkan, perlu ada jalan keluar bersama,” lanjutnya.

Ketua Umum Asprov PSSI Jateng Johar Lin Eng mendukung laga final ISC-B tetap dilaksanakan di Stadion Manahan, Solo. Terkait dengan potensi kericuhan, anggota komite eksekutif PSSI itu meminta agar semua pihak mau menahan diri dan terus menciptakan kondusifitas di lokasi final. “Sebagai yang ditunjuk operator tentu kami siap menggelar pertandingan final dibantu panitia lokal Solo. Selain semua pihak mau menahan diri, petugas keamanan pun juga harus meningkatkan pengawasannya,” ujarnya.

Mengenai pengamanan suporter sepak bola, Polda DIJ mempunyai standar operasional prosedur (SOP) pengawalan terhadap pendukung tim yang akan menuju luar kota. Yaitu menjemput di titik kumpul, dan dikawal sampai venue pertandingan, atau perbatasan wilayah DIJ. Lalu kemudian dijemput kembali dari stadion atau perbatasan dan diantarkan kembali ke lokasi kumpul.

Pada laga penentuan juara ISC-B, Sabtu (17/12) besok, sepertinya memang belum ada koordinasi detil antara manajemen PSS dengan pihak kepolisian. Baik Polda DIJ maupun Polda Jateng. “Kami akan dalami terlebih dulu mengenai hal itu. Pada prinsipnya kami akan melakukan pengamanan apabila ada kemungkinan terjadi gangguan Kamtibmas,” ujar Kapolda DIJ Brigjen Pol Ahmad Dofiri. (riz/eri)

1 2