RADARJOGJA.CO.ID-Kematian siswa SMA Muhammadiyah I (Muhi) Kota Jogja Adnan Wirawan Arisyanta akibat aksi Klithih seharusnya menjadi yang terakhir. Tak perlu ada lagi, aksi balas dendam atau pun doktrinasi geng pelajar secara turun-temurun untuk memusuhi siswa di sekolah lain.

Itu merupakan keinginan dari beberapa pelajar di Jogjakarta. Saat ada diskusi Jogja Darurat Klithih Kamis (15/12) lalu, di kantor DPD RI Perwakilan DIJ.

Perwakilan Forum Pelajar Sleman Anindya Putri Hapsari menyebut,geng pelajar juga didorong oleh ketidaknyamanan siswa di sekolah. Siswa dengan berprilaku nakal atau memiliki hasil buruk saat di sekolah kadang menjadi incaran guru. “Akhirnya saat kumpul pelajar-pelajar ini menjelek-jelekkan guru,” bebernya.

Kemudian, karena kondisi lingkungan baik sekolah maupun tempat tinggal tak mendukung, akhirnya mereka mencari lingkungan baru. Salah satunya dengan membentuk geng pelajar. Nah, di geng pelajar ini, siswa bebas melakukan apa pun. Termasuk dengan menganiaya orang lain.

“Ada yang sampai ketemu musuh bebuyutan sekolah lalu berantem,” ungkapnya.

Wakil wali murid siswa Hazwan Iskandar Jaya menjelaskan, penuntasan klithih harus dengan cara memutus mata rantai dendam. Termasuk mereduksi keberadaan geng-geng di sekolah. “Geng sekolah ini turun-menurun, maka dari itu harus menjadi perhatian bersama,” imbaunya. (bhn/eri)