RADARJOGJA.CO.ID – Kepolisian menggelar razia dan patroli gabungan guna menekan aksi klithih yang marak belakangan ini, Kamis (15/12) malam. Hasilnya ditemukan beberapa warga membawa benda-benda membahayakan.

Di Jalan MT Haryono, Mantrijeron, Jogja, jajaran Polsek Mantrijeron mengamankan dua orang pengguna jalan yang melintas karena kedapatan membawa barang berbahaya. Seorang pemuda, Damani, 19, warga Panembahan Kraton, diamankan karena kedapatan membawa stik besi sepanjang 60 sentimeter.

Sementara Fajar, 25, warga Banyuraden, Gamping, diamankan karena membawa satu botol bekas air mineral berisi arak. Keduanya langsung digelandang oleh anggota Opsnal ke Mapolsek Mantrijeron untuk proses pemeriksaan.

Dari pemeriksaan, Fajar yang sehari-hari bekerja sebagai seorang kernet bus hanya mendapatkan pembinaan. Arak yang dibawa bukan untuk dijual, tetapi untuk dikonsumsi sendiri. “Kami perbolehkan pulang, tapi arak dimusnahkan setelah membuat surat pernyataan,” jelas Kapolsek Mantrijeron Kompol Agus Setyabudi.

Sementara pembawa stik yang berstatus seorang mahasiswa, mendapatkan pemeriksaan intensif. Hal ini dilakukan guna pencegahan terhadap aksi klitihih yang lagi hangat di Jogjakarta.

!–nextpage–>

Setelah diperiksa cukup lama, Damani diperbolehkan untuk pulang, karena barang yang dibawa tidak ada bukti digunakan untuk berbuat kekerasan. “Barang itu tidak termasuk dalam senjata tajam seperti yang diatur dalam UU Darurat. Meski begitu, warga tidak dibenarkan membawa benda-benda semacam itu di jalan,” jelasnya.

Kapolsek Kraton Kompol Etty Haryanti menjelaskan, operasi gabungan yang dilakukan untuk fokus pencarian keberadaan senjata tajam, bahan peledak, minuman keras, narkoba, dan psikotropika. Setiap berbagai jenis kendaraan yang melintas di titik-titik pemeriksaan diberhentikan dan dilakukan penggeledahan.

Menurutnya, warga tidak dibenarkan membawa barang yang tidak wajar di jalan seperti tongkat besi maupun senjata tajam. “Meskipun dengan alasan berjaga-jaga, tetap tidak dibenarkan,” terangnya.

Sedangkan di tempat lain, patroli cipta kondisi yang dilakukan satuan Sabhara Polresta Jogjakarta juga membuahkan hasil. Petugas berhasil mengamankan lima pemuda, seorang di antaranya membawa benda dicurigai sebagai ganja.

Dari tangan pemuda di bawah umur, RA, 16, petugas menemukan satu linting daun sebesar korek api di dalam bungkus rokok. Dari temuan itu mereka digelandang ke Mapolresta untuk menjalani pemeriksaan di Satnarkoba Polresta.

!–nextpage–>

“Meski yang bawa satu orang, semuanya tetap kami periksa,” jelas Kasat Resnarkoba Kompol Sugeng Riyadi. Hasil pemeriksan, lintingan rokok yang dibawa berisi tembakau disebut gorilla.

Secara hukum, tembakau itu belum masuk daftar narkotika dan psikotropika. Namun dari pemeriksaan yang dilakukan, tembakau itu memberikan efek mirip dengan menghisap ganja. “Untuk kualitas baik disebut-sebut harga tembakau gorilla lebih mahal dari daun ganja,” ungkapnya.

Di Jalan RE Martadinata, anggota Opsnal Polresta Jogjakarta menangkap dua pemuda yang membawa barang berbahaya. Andri, 32, dan Eka, 22, diamankan setelah petugas menemukan psikotropika jenis camlet sebanyak dua papan dan senjata tajam jenis pisau sangkur dari tangan keduanya.

“Kedua warga Gamping ini kami amankan ke Satreskim Polresta Jogjakarta,” tegas Kasat Reskrim AKP M Kasim Akbar Bantilan. Hingga kemarin kedua tersangka ini masih terus menjalani pemeriksaan intensif dari penyidik di Mapolresta. “Tidak diketahui motif dari kedua tersangka membawa dua barang berbahaya itu,” tambahnya.

!–nextpage–>

Kapolda DIJ Brigjen Pol Ahmad Dofiri saat ditemui di Mapolda DIJ kemarin menjelaskan, dalam upaya pencegahan aksi klithih mulai Kamis (15/12) malam, aparat melakukan patroli dan razia di seluruh wilayah. Selain klithih, operasi itu dilakukan untuk mencegah aksi terorisme dan penyalaggunaan narkoba dan minuman keras. “Razia akan kami gelar sampai dengan pelaksanaan operasi lilin,” jelasnya.

Dari operasi itu, jelasnya, didapati warga yang membawa senjata tajam di kawasan Jogja. Bagi mereka yang kedapatan membawa senjata tajam dan narkoba, sudah ditangani oleh penyidik dari kepolisian di masing-masing wilayah.

Saat disinggung apakah Jogja sudah mengalami darurat klithih, mantan Kapolda Banten ini menolak jika kota pelajar disebut darurat klithih. Menurutnya, tawuran dan kenakalan pelajar di mana-mana terjadi.

Dengan sebutan kota pelajar, setiap kenakalan pelajar menjadi perhatian serius. “Ini menjadi konsen kita bersama. Ini bukan hanya tugas polisi. Pendidik, guru, orang tua dan masyarakat harus bersama-sama memecahkan persoalan ini,” tandas jenderal bintang satu ini. (bhn/laz/ong)