RADARJOGJA.CO.ID-Munculnya pemasangan beberapa spanduk yang berisi ajakan untuk belanja di toko atau warung warga pribumi di Muntilan Kabupaten Magelang ternyata dipicu persoalan toko modern atau berjejaring. Menurut Ketua Front Pembela Islam (FPI) Temanggung , Yhoenex Y, munculnya Gerakan Pribumi Berdaulat Magelang Raya (GPBMR) karena kekhawatiran

pedagang pasar tradisional digilas swalayan dan minimarket. Omset mereka sudah turun drastis dengan hadirnya toko modern.

“Pasar tradisional mengeluh karena adanya Indomaret, Alfamart, Hero, Laris,” katanya.

https://radarjogja.co/haramkan-toko-jejaring-nu-desak-pemerintah-lindungi-pedagang-kecil/

Sisi lain, pembangunan Pasar Muntilan yang tak kunjung dilaksanakan juga menjadi pemicu lain.

“Pembangunan pasar (Muntilan) sampai sekarang belum jadi,” tuturnya.

https://radarjogja.co/ketua-fpi-dipanggil-polisi/

Pemeriksaan Ketua FPI Kabupaten Magelang Antha dan salah satu koordinator GPBMR Anang Imamuddin oleh Polres Magelang mengundang sejuta tanya. Apalagi jika pemanggilan keduanya didasarkan spanduk GPBMR yang berisi ajakan untuk belanja di toko atau warung warga pribumi. Spanduk itu bertuliskan “Pribumi Berdaulat Putera Daerah Berkarya” dan “Gerakan Belanja di Toko Pribumi. Lawan Penjajahan Asing dan Aseng”. Spanduk dipasang di beberapa titik di Muntilan, pada Rabu (14/12) dan sejumlah aparat bersenjata laras panjang mencopotnya pada Jumat (16/12) lalu.

https://radarjogja.co/siapa-resah-ajakan-belanja-di-toko-milik-pribumi/

“Sebenarnya yang resah atas pemasangan spanduk tersebut siapa? Polisi, para konglomerat, atau masyarakat. Kalau masyarakat, masyarakat yang mana? ” tanya Yhoenex Y. (dem/hes)

[ad id=”38614″]