RADARJOGJA.CO.ID – BANTUL – Dinas Pertanian dan Kehutanan (Dispertahut) kembali membuat terobosan. Kali ini dengan meluncurkan pedoman tata tanam tepat. Itu berfungsi sebagai pedoman bagu para petani menghadapi musim tanam 2016-2017. Sebab, ada klasifikasi wilayah area pertanian dalam materi buku pedoman ini. Bahkan, pembuatan klasifikasi ini hingga menyentuh ke seluruh desa.

Menurut Plt Kepala Dispertahut Bantul Pulung Haryadi, klasifikasi meliputi tiga aspek. Yakni, iklim, ketersediaan air, hingga letak geografis. Menariknya lagi, dalam pedoman ini juga mengulas jenis komoditas dan varietas tanaman apa yang cocok ditanam.

“Sehingga petani di 75 desa di Bantul akan lebih gampang menentukan tanamannya,” jelas Pulung di sela acara Pencanangan Persiapan Musim Tanam 2016-2017 di Dusun Srunggo II, Selopamioro, Imogiri, Rabu (14/12).

Pulung menggaransi, pedoman tata tanam tepat ini efektif. Sebab, pedoman ini juga memperhitungkan potensi kondisi iklim pada 2017. Di samping itu, Dispertahut sebagai leading sector juga melibatkan praktisi sekaligus pakar bidang pertanian dalam penyusunan buku pedoman ini.

Dikatakannya, fenomena gagal panen menjadi salah satu pemicu penyusunan buku pedoman ini. Menurut Pulung, ada beberapa penyebab fenomena gagal panen pada musim tanam 2015-2016. Tapi, yang paling mencolok adalah perubahan iklim serta tidak serempaknya pola tanam. Perubahan iklim, misalnya, banyak tanaman palawija seperti kedelai gagal panen lantaran datangnya musim penghujan lebih maju.

Begitu pula dengan pola tanam. Pulung melihat tidak serampaknya pola tanam memicu adanya serangan hama. Tanaman yang lebih awal panen meninggalkan hama mematikan. Hama bakal berpindah dan menyerang lahan lain setelah tanaman lama memasuki masa panen. “Kemarin air banyak, tapi sebagian petani malah menanam palawija,” keluhnya.

Atas dasar itu, pejabat asal Banguntapan ini berharap buku pedoman menjadi acuan seluruh petani di Bumi Projo Tamansari. Toh, cakupan buku pedoman ini juga mengatur hingga ke tingkat desa. “Baru Bantul yang punya buku pedoman seperti ini,” tuturnya.

Selain mematuhi buku pedoman, Pulung juga menyarankan para petani menerapkan model jajar legowo. Bahkan, Dispertahut memberikan iming-iming reward berupa satu unit traktor bagi kecamatan yang sukses menerapkan model tanam ini.

Dengan penerapan buku pedoman dan jajar legowo ini, Pulung optimistis target 194 ribu ton gabah kering panen pada 2017 bakal tercapai. “Meningkat 2000 ribu ton dibandingkan target 2016,” tambahnya.

Bupati Bantul Suharsono mengaku memang memberikan prioritas pada sektor pertanian. Salah satunya dengan menyediakan benih berkualitas serta menjamin adanya pendampingan dari dinas. Hal itu dilakukan karena jumlah warga Bantul yang berprofesi sebagai petani cukup banyak. Di atas 40 persen dari jumlah total penduduk Bumi Projo Tamansari. (zam/din/mar)