RADARJOGJA.CO.ID-Tindakan polisi dinilai janggal dan tidak mendasar. Terkait pemeriksaan Ketua Front Pembela Islam (FPI) Kabupaten Magelang Antha dan salah satu koordinator Gerakan Pribumi Berdaulat Magelang Raya (GPBMR) Anang Imamuddin oleh Polres Magelang. Apalagi jika pemanggilan keduanya didasarkan spanduk GPBMR yang berisi ajakan untuk belanja di toko atau warung warga pribumi

“Spanduk itu adalah ajakan untuk belanja di toko pribumi. Jadi kalau sampai ada BAP (Berita Acara Pemeriksaan) maka polisi tidak berdasar,” kata Anggota Tim Advokasi Gerakan Pribumi Berdaulat Magelang Raya (GPBMR), Agus Surahmat.

https://radarjogja.co/ketua-fpi-dipanggil-polisi/

Menurut Agus, pemanggilan Antha dan Anang jika sebagai bentuk klarifikasi masih dianggap wajar. Tapi bila sampai pada pembuatan BAP, hal ini jelas mengada-ada.

“Kalau sampai pada Berita Acara Pemeriksaan maka harus jelas deliknya mana,” ujarnya.

https://radarjogja.co/muncul-spanduk-ajakan-belanja-di-toko-pribumi-dicopoti-polisi/

Spanduk yang dianggap masalah oleh Polres Magelang dinilai Agus sebagai ajakan ketahanan pangan Indonesia. Dimana pribumi saat ini hanya mendapat jatah 10 persen. Dia siap mengawal kasus tersebut bahkan akan mengerahkan massa lebih besar jika hukum tidak adil.

“Massa juga siap untuk tumpah di Polres Magelang jika sampai saudara Anang dijadikan tersangka,” tegasnya.

https://radarjogja.co/siapa-resah-ajakan-belanja-di-toko-milik-pribumi/

Sebelumnya, Kasat Reskrim Polres Magelang AKP Rendi Wicaksana membenarkan pihaknya telah memanggil Antha dan Anang. Ia tidak menampik pemanggilan itu berkaitan dengan pemasangan spanduk di Muntilan dan sekitarnya.

“Pemanggilan ini untuk klarifikasi mas,” jelas Rendi. (dem/eri)

[ad id=”38614″]