RADARJOGJA.CO.ID – BANTUL – Penertiban area zona inti gumuk pasir Rabu (14/12) lalu ternyata tak sepenuhnya membuat penghuninya pergi. Buktinya, sehari pasca penertiban, sebagian penghuni memilih membangun tenda darurat di sekitar bangunan rumahnya yang telah rata dengan tanah. “Kami juga membangun dapur umum dibantu sejumlah mahasiswa. Peralatan dibantu Komite Bersama Reformasi,” jelas Watin, salah satu perwakilan warga, Kamis (15/12).

Menurutnya, pendirian tenda darurat ini sebagai salah satu bentuk penolakan terhadap penertiban. Sebab, hingga sekarang lahan yang diproyeksikan sebagai area relokasi masih belum layak. Lahan relokasi masih menjadi genangan air. “Mau tinggal di mana? Wong sudah dirobohkan,” ucapnya.

Watin tidak terlihat saat dua alat berat merobohkan puluhan bangunan Rabu lalu. Pria yang paling keras bersuara menentang rencana penertiban digulirkan ini tidak ikut menemani penghuni area zona inti gumuk pasir. Menanggapi hal ini, Watin berdalih saat itu dia berencana melakukan audiensi dengan pemprov DIJ.

[ad id=”38614″]

Kasat Pol PP Bantul Hermawan menanggapi enteng terkait sebagian eks penghuni di area zona inti gumuk pasir mendirikan tenda darurat. Hermawan mengaku sudah mengendus hal tersebut jauh hari sebelum penertiban. “Itu hanya skenario,” sindirnya.

Oleh karena itu, Hermawan tidak terlalu memikirkan nasib sebagian penghuni yang menentang rencana penertiban ini. Toh, mereka juga telah mengingkari janji untuk koperatif. “Sejak awal sudah ditawari relokasi dan bantuan. Nyatanya yang bersedia mengambil bantuan Rp 1 juta hanya sembilan orang,” keluhnya.

Terkait lahan relokasi, Hermawan menyatakan, masih dalam tahap perataan. Kendati begitu, lahan representatif yang tersedia untuk didirikan bangunan mampu menampung sepuluh bangunan. “Kami belum tahu selesainya proses perataan tanah,” tambahnya. (zam/mar)