RADARJOGJA.CO.ID–Rasa optimisme pelajar terhadap masa depannya menjadi salah satu penyebab pelajar di Kota Jogja sampai bertindak brutal dengan membacok pelajar lain. Dunia pendidikan pun seharusnya membangkitkan rasa optimis di kalangan pelajar ini. Bahwa, masa depan masih sangat cerah.

Pakar Hukum Tata Negara Prof Mahfud MD menegaskan, negara selama ini abai untuk menciptakan lingkungan yang kondusif bagi pelajar. Akhirnya, kalangan pelajar ini lari ke hal-hal negatif.

“Hubungan pelajar, anak muda dan warga masyarakat harus bagus, kondusif,” ujar Mahfud.

Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi ini menegaskan, solusi atas permasalahan kekerasan pelajar yang diistilahkan klithih seharusnya menjadi prioritas. Selain dengan memberikan hukuman yang memberikan efek jera.

“Kalau pelaku anak di bawah umur remaja ada hukumnya, dikurangi sepertiga ancaman maksimal. Tinggal dibawa pengadilan sesuai hukum berlaku dengan penanganan serius,” ujarnya.

Dilain pihak, Kapolda DIJ Brigjen Pol Ahmad Dofiri mengatakan, meski tersangka masih di bawah umur, proses peradilan tetap harus dijalankan. Namun dengan batasan-batasan, antara lain adanya pendampingan dan saat penahanan harus dipisah, atau tidak boleh dicampur dengan dewasa.

Baca juga: Adnan Wirawan, Siswa SMA Muhi Akhirnya Meninggal Ditebas Sajam

“Selain itu prosesnya juga harus dipercepat 15 hari segera dikirim berkasnya, supaya cepat dan tidak berlarut-larut,” ujarnya.

Baca juga: Hukuman Pembacok Siswa SMA Muhi Dipastikan Sesuai Ketentuan

Dikatakan, dari hasil pemeriksaan, ke sepuluh tersangka memenuhi unsur penganiayaan (Pasal 170) dan pengeroyokan (Pasal 351). Namun, pihaknya belum bisa menjelaskan secara rinci siapa yang jadi otak penganiayaan dan pengeroyokan, karena itu masih dalam penyidikan. “Ancaman sampai dengan tujuh tahun penjara,” ujarnya.(dya/eri)

[ad id=”38909″]