RADARJOGJA.CO.ID – Saat ini, Gunungkidul menjadi salah satu tujuan wisata favorit di DIJ. Banyaknya jumlah kunjungan juga memiliki dampak negatif. Karena itu perlu antisipasi sejak dini.

“Gunungkidul merupakan daerah yang banyak didatangi masyarakat luar. Ini akan berdampak pada kependudukan dan permasalahan sosial,” kata Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) DIJ Aan Jumhana saat audiensi dengan Bupati Gunungkidul Badingah, Selasa (20/12).

Menurut Aan, dampak negatif yang dimaksud adalah peredaran narkoba dan seks bebas. Karena itu, lanjut Aan, BKKBN komit memerangi narkoba, seks bebas, hingga pernikahan dini. Tujuannya agar munculnya kasus HIV/AIDS di Jogjakarta bisa ditekan.

Aan mengingatkan, remaja menjadi fokus untuk pembangunan. “Melalui program kependudukan, dilakukan konseling terhadap para remaja. Termasuk menjalankan materi kesehatan repoduksi (kespro) di lembaga pendidikan,” paparnya.

Dijelaskan, hingga sekarang pendidikan konseling sebaya berjalan di setiap kelompok-kelompok masyarakat. Sementara di lembaga pendidikan ada materi kespro, sehingga siswa mengetahui soal kespro dengan benar.

“Kami ingin pendidikan kespro menyasar ke remaja masjid dan organisasi kepemudaan yang lain,” harapnya.

Bupati Gunungkidul Badingah mengapresiasi program yang dilaksanakan BKKBN. Muara dari semua program tersebut adalah meningkatkan kesejahteraan dan membangun masyarakat.

“Di Gunungkidul ada sejumlah kecamatan dan desa yang mencanangkan atau mendeklarasikan diri anti-nikah dini,” kata Badingah.

Dalam menangani penyalahgunaan narkoba dan seks bebas, lanjut Badingah, pemkab bekerja sama dengan berbagai pihak secara aktif. Misal, kerja sama antara kepolisian dan aparat penegak hukum perda terkait pengendalian minuman keras.

Terakhir, kepolisian melakukan operasi di sejumlah penginapan dan mengamankan pasangan tidak resmi. Mereka digelandang ke kantor polisi untuk dilakukan pendataan dan dibina.(gun/hes)