RADARJOGJA.CO.ID – JEPARA – Pertarungan mental. Itulah yang tersaji di babak final ISC-B 2016. Kedua tim yang bertanding baik PSS Sleman maupun PSCS Cilacap menampilkan permainan menyerang dan saling berkejaran gol. Tujuh gol tercipta untuk keunggulan PSCS 4-3. Hal itu menunjukkan Laskar Nusakambangan lebih unggul dalam mentalitas. “Ketika fisik dan teknik semua pemain bagus, namun mental pemain kami lebih menguasai dan lebih unggul. Itu membuat kami lebih lepas dan keluar dari tekanan penonton dan permainan PSS,” ujar pelatih PSCS Gatot Barnowo kepada wartawan.

Sementara pelatih PSS Sleman Seto Nurdiantoro mengatakan, secara hasil pihaknya tentu kecewa. Namun menurutnya, dengan kondisi pemainya yang telah pincang sejak 16 besar, melaju sampai final adalah hasil terbaik. Sejak perdelapanfinal sekitar 6-7 pemainnya silih berganti masuk ruang perawatan. Mulai dari Waluyo, Dave Mustaine, Eka Angger, Denny Rumba, Oya Winaldo dan Rama Yoga. “Target awal kami memang sampai final, dan sudah menjadi hasil terbaik. Kami syukuri dan akan ada evaluasi, kami kembalikan ke manajemen seperti apa,” ungkapnya.

Kepercayaan diri dan tidak mampu menjaga fokus sekecil apapun di partai krusial bisa menjadikan yang fatal. Dari pertandingan tersebut, koordinasi di lini belakang patut dievaluasi. PSS sempat menambah penyerang dengan memasukkan Chalwa di tengah pertandingan. Namun sisi kiri pertahanan PSS yang terus dieksplorasi pemain PSCS meninggalkan lubang. “Semuanya saja sebenarnya, tidak hanya pemain belakang. Transisi juga harus diperbaiki lagi,” bebernya.

Bermain di hadapan puluhan ribu pendukungnya yang menguasai Stadion Gelora Bumi Kartini Jepara, PSS Sleman menyentak di menit pertama sejak peluit panjang dibunyikan. Baru semenit waktu berjalan, Dave Mustaine mencatatkan namanya di papan skor.