RADARJOGJA.CO.ID – SLEMAN – Wabah frasa “om telolet om” kini tengah menghiasi jagat maya. Bahkan, keberadaannya tidak hanya diperbincangkan di dalam negeri. Tetapi telah merambah mancanegara.

Setelah menjadi ngetren di media sosial (medsos), masyarakat kini berlomba-lomba mengabadikan momen untuk mendapatkan suara klakson bus-bus besar yang melintas, kemudian diunggah ke medsos melalui gawai mereka.

Hal ini biasanya dilakukan anak-anak dan remaja. Mereka nongkrong di pinggir jalan sambil membentangkan spanduk bertuliskan “Om Telolet Om” setiap kali ada bus besar melintas. Sementara beberapa anak lainnya bersiap dengan gawai mereka untuk merekam momentum suara klakson tersebut.

Direktur Lalu Lintas Polda DIJ AKBP Latif Usman memandang, upaya meminta sopir bus agar membunyikan suara klakson cukup membahayakan bagi pengguna jalan. Khususnya, bagi pelaku yang kelewat batas. “Memang ini untuk kesenangan. Tapi, kalau sudah mengganggu akan kami tindak,” tegasnya kemarin (22/12).

Dikatakan, aksi para pemburu telolet untuk sementara masih ditoleransi. Itu jika mereka beraksi di pinggir jalan. Namun, bila cara-cara yang dilakukan tergolong ekstrem, bahkan sampai mengejar bus atau menghentikannya, aparat akan mengambil tindakan hukum kepada mereka.

Kendati demikian, Latif mengaku masih melihat perkembangan fenomena tersebut. Ditlantas bersama Dinas Perhubungan DIJ sedang melakukan kajian. Jangan sampai fenoma itu memakan korban jiwa karena ketidak hati-hatian masyaraat. “Kalau mau minta klakson di jalur aman. Kalau tidak ada jalurnya lebih baik jangan dilakukan,” imbaunya. (bhn/yog/ong)