Seto Serahkan Nasib Tim kepada Manajemen

RADARJOGJA.CO.ID – SLEMAN – PSS Sleman gagal mencapai ekspektasi meraih juara Indonesia Soccer Championsip (ISC) B setelah di partai penentuan harus mengakui keunggulan PSCS Cilacap 4-3, Kamis malam (22/12). Stadion Gelora Bumi Kartini dan puluhan ribu pendukung Laskar Sembada menjadi saksi bahwa PSCS tidak hanya unggul dari fisik dan organisasi permainan, tetapi juga mentalitas.

Bagaimana tidak, Lanusmania-julukan suporter PSCS yang hadir di Jepara hanya sekitar 500 orang. Itu jelas berbanding sangat jauh dengan Sleman fans yang ditaksir mencapai 20 ribu orang. Suporter PSCS juga sempat tertahan di Polres Jepara dan akhirnya mengurungkan niat menyaksikan Jimmi Suparno dkk di dalam stadion.

Di bawah tekanan penonton PSS, Laskar Nusakambangan bermain lepas dan bisa mengembangkan permainan dan mampu keluar sebagai juara. “Ini pertandingan yang tidak hanya membutuhkan fisik dan skil permainan. Tapi juga mental. Kami bisa melewati tekanan penonton,” ujar Gator Barnowo, pelatih PSCS Cilacap kepada wartawan.

Pelatih PSS Sleman Seto Nurdiantoro mengaku, setelah berakhirnya ISC-B, tanggung jawabnya sebagai nakhoda skuad Super Elang Jawa juga berakhir. Sepenuhnya dia menyerahkan hasil evaluasi timnya kepada manajemen. Namun pelatih dengan lisensi B AFC itu mengaku, dari seluruh pemainnya, dia menyebut sekitar 60-70 skuadnya layak dipertimbangkan untuk dipertahankan. “Masih banyak yang bagus meskipun akan juga banyak evaluasi. Jadi kalau untuk musim depan, kami rasa tidak perlu dirombak total. Tinggal penambahan di beberapa sektor saja,” ujarnya.

Ya, skuad PSS sebenarnya cukup mumpuni untuk mengarungi kompetisi musim depan. Namun memang kedalaman skuad perlu ditambah. Hal itu untuk mengantisipasi badai cedera di beberapa pos sentral seperti lini belakang.

Sejak 16 besar, silih berganti penggawa barisan pertahanan harus menepi karena cidera. Mulai dari awalnya Bagas Adi, Waluyo, M. Syaifudin, Eko Pujianto, Rama Yoga dan juga Oya Winaldo. Pekerjaan rumah yang harus segera menjadi perhatian manajemen dalam merekrut pemain.

Sementara lini tengah, gelandang-gelandang PSS lebih banyak bertipe stylis dan flamboyan. Sebelumnya saat jeda memasuki 16 besar, Seto pernah menginginkan gelandang tipe pekerja yang bisa mendobrak di lini tengah. Termasuk yang bisa meredam serangan sejak lini tengah. Salah satu kelemahan PSS dari beberapa pertandingan terakhir adalah mulai menurunnya fokus setelah unggul lebih dulu.

Belum ada gelandang yang mampu mengontrol tempo dan meredam serangan balik lawan yang dilakukan dalam waktu cepat. Tiga pertandingan sejak delapan besar sampai final bisa menjadi rujukan. Bagaimana setelah unggul lebih dulu, PSS kerap lengah dalam serangan balik.

Manajer PSS dr Arif Juliwibowo mengatakan, selain melengkapi skuad dengan memburu pemain baru. Dia juga berencana akan memagangkan beberapa pemain PSS U-17 ke skuad senior. “Kami terus melihat potensi pemain-pemain muda Sleman. Kami juga sudah ada pandangan untuk beberapa pemain yang akan dipertahankan musim depan. Namun nanti kami bahas lagi di manajemen,” jelasnya. (riz/din/ong)