Merasakan Nuansa Berbeda saat Berdoa

Menjelang perayaan Natal, objek wisata religi menjadi jujukan warga. Salah satunya adalah Gua Maria Ratu Perdamaian Jatiningsih yang terletak Dusun Jitar, Sumberarum, Moyudan, Sleman. Suasana alam yang asri menjadi ciri khasnya, sehingga umat makin khusyuk dalam berdoa.

DWI AGUS, Sleman

SUARA gemericik sungai terdengar begitu jelas saat Radar Jogja mendatangi Gua Maria Ratu Perdamaian Jatiningsih. Suara sungai berpadu dengan gesekan pohon yang tertiup angin terasa syahdu. Tempat ibadah terbuka ini menyajikan nuansa berbeda untuk berdoa.

Suasana sunyi dan khidmat tersaji di Gua Maria ini. Umat datang silih berganti untuk memanjatkan doa. Sejenak mereka menyalakan lilin, dan diletakkan di depan Gua Maria. Kedua telapak tangan dirapatkan lalu memanjatkan doa kepada Sang Pencipta.

“Kalau sejarah, tempat ibadah terbuka ini sudah cukup lama berdiri. Sudah sejak 1986 atas swadaya warga sekitar sini. Awalnya mendirikan agar bisa menampung warga yang ingin beribadah,” kata Romo Paroki Gereja Santo Petrus dan Paulus Klepu Romo FX Murdisusanto, kemarin (23/12).

Romo Murdi, sapaannya, menjelaskan secara rinci sejarah tempat ibadah ini. Awalnya tempat ini bernama Sendang Pusung. Nama terakhir merupakan akronim dari kalimat sing ngapusi busung. Artinya siapa yang berbohong akan terkena ulahnya.

Gua ini sudah ada sebagai tempat peristirahatan warga yang melintas. Di kawasan ini terdapat mata air yang berada di samping Sungai Progo. Mata air inilah yang akhirnya dimanfaatkan oleh warga menjadi sendang (kolam).

Semula warga berkeinginan mendirikan kapel. Namun, oleh romo paroki, kala itu Romo Mardi Kartono, tidak memberi izin. Alasannya, sudah ada Gereja Santo Petrus dan Paulus Klepu yang berada di sisi timur Sumbearum.

“Atas pertimbangan, maka warga lebih memilih tempat ibadah terbuka. Romo paroki, Romo Mardi Kartono kala itu langsung mengizinkan. Sehingga berdirilah Gua Maria Jatiningsih sebagai tempat peribadahan,” jelas Romo Murdi.

Berdirinya tempat ini juga tidak terlepas dari sosok Ignatius Purwowidono. Mantan Kepala SD Tarakanita Bumijo ini menghibahkan tanah seluas 800 meter persegi miliknya. Jadilah sepetak tanah di pinggiran Sungai Progo sebagai cikal bakal Gua Maria Jatiningsih.