RADARJOGJA.CO.ID – JOGJA – Perilaku klitih di Jogjakarta sudah sangat mengkhawatirkan. Hampir tiap bulan, ada saja korban pelaku klitik. Kabar teranyar, 7 siswa SMA Muhammadiyah 1 Jogja menderita luka bacok. Bahkan, satu siswa diantaranya harus kehilangan nyawa karena menjadi korban tindakan anarkhisme sekelompok remaja klitih yaitu Adnan Wirawan.

Kematian Adnan Wirawan menjadi penanda telah terjadi bencana agresivitas pada remaja. Rentetan kasus sebelumnya peristiwa kekerasan remaja sering hadir di ranah publik seperti tawuran pelajar, bentrok antar geng, dan tawuran remaja antar kampung.

“Realitas meninggalnya Adnan Wirawan dan maraknya kekerasan remaja harus disikapi secara seriuss oleh semua elemen masyarakat,” kata Direktur Clinic for Community Empowerment Fakultas Psikologi UAD, Dr Hadi Suyono saat ditemui dikantornya.

Menurut Hadi, aksi kekerasa tersebut bisa jadi potret dari dampak dari carut marutnya republik ini. Orang-orang dewasa yang seharusnya memberi perhatian, membina, mengarahkan, dan menemani perkembangan psikologis remaja telah abai.

“Orang-orang dewasa terlalu sibuk berurusan dengan benturan antar kelompok, fokus urusan politik, dan suntuk mencari pundi-pundi rezeki,” jelas Hadi.

Karena itu, Hadi meminta kepada aparat penegak hukum menegakan hukum seadil-adilnya. Upaya penegakan hukum merupakan langkah kuratif yang sangat tepat. Hal ini dapat mencegah secara cepat agar kasus kekerasan tidak berdampak pada kekerasan yang lebih luas. Penegakan ukum juga sebagai terapi efektif bagi para pelaku tindak kekerasan.

“Saat hukum dijalankan dengan benar maka rasa keadilan bagi keluarga korban akan terpenuhi. Sebaliknya rasa keadilan korban tidak terpenuhi akan menimbulkan rasa frustasi, maka berpotensi menumbuhkan balas dendam. Kalau ini terjadi bisa berkembang kekerasan tak berkesudahan,” papar Hadi.

Selain itu, aparat penegak hukum membutuhkan dukungan sekaligus kepedulian dari unsur masyarakat lain untuk menangani tindakan kekerasan remaja sebagai dampak fenomena klitih. Mengapa hal ini perlu dilajukan? Menurut Hadi, penanganan terhadap pelaku tindak kekerasan oleh aparat penegak hukum ibarat memadamkan kebakaran.

“Penangan kasus hanya dilakukan dari satu sisi legalitas formal dan bersifat kuratif. Ketika satu dapat diselesaikan akan terjadi kasus lain,” jelasnyaa.

Upaya lain dalam rangka menyelesaikan masalah dengan komprehensif memerlukan tindakan preventif. Caranya, mengembangkan gerakan sense of community. Bahwa masalah kekerasan bukan hanya menjadi tanggung jawab aparat penegak hukum dan birokrasi tetapi merupakan tanggung jawab bersama semua unsur masyarakat seperti keluarga, rukun tetangga, tokoh masyarakat, dan warga yang lain.

Sense of community dapat berwujud suatu gerakan kepedulian terhadap pencegahan terhadap kekerasan. Sebenarnya dalam rangka membangun sense of community dapat menumbuhkan kearifan lokal yaitu semangat handarbeni terhadap warga sekitar yang tercipta melalui kegotongroyongan.

Misalnya, anak-anak di lingkungan sekitar adalah merupakan batih. Sehingga kalau ada anak-anak di sekitar ada yang berperilaku tidak benar tergerak ikut membantu menyelematkan mereka dari perilaku kekerasan.

“Kalau kesadaran itu tumbuh dalam komunitas masyarakat, maka tidak ada ruang gerak untuk remaja melakukan tindakan kekerasan. Semoga,” ungkap Hadi. (mar)