RADARJOGJA.CO.ID – SLEMAN – Peringatan berdirinya Desa Condongcatur dirayakan meriah petang kemarin. Ditandai dengan kirab bregada dan gunungan hasil bumi di Balai Desa Condongcatur. Kirab bregada dilakukan dari segala penjuru.

Kepala Desa Condongcatur Reno Candra Sangaji menuturkan kirab adalah kilasan sejarah. Setiap bregada merupakan perwakilan empat desa lama. Awal berdirinya Desa Condongcatur terdiri dari empat desa yang melebur.

“Pada 26 Desember 1946, atas keputusan Gubernur DIJ saat itu, Sri Sultan Hamengku Buwono IX memerintahkan empat pedesaan melebur jadi satu. Tepatnya Desa Gorongan, Manukan, Kentungan dan Gejayan,” kata Reno.

Kirab sejarah ini perlu digelar. Sebab belum semua warga Condongcatur paham sejarah desanya. Hal ini sekaligus mengenalkan bregada-bregada kerakyatan yang dimiliki masing-masing desa.

Empat bregada yang hadir itu, Bregada Paksi Jayeng Katon, Bregada Kromo Yudha, Bregada Sastra Diharjan, dan Bregada Hadi Manggala. Reno menuturkan jumlah bregada sejatinya lebih banyak.

“Condongcatur terdiri dari 18 padukuhan, dan dulu masing-masing punya bregada. Untuk saat ini bregada yang tampil mewakili empat desa lama. Ke depan akan kami kemas lebih menarik,” ujar Reno.

Gunungan hasil bumi merupakan wujud syukur. Gunungan terdiri dari sayur dan buah-buahan merupakan hasil pertanian warga. Meski beberapa kawasan pertanian telah menjadi kawasan hunian.

“Petani di Condongcatur tetap ada dan eksis. Terbukti dengan adanya hasil bumi dalam gunungan ini. Gunungan ini disusun dan diberikan kepada warga sebagai bentuk berbagi rezeki hasil bumi,” kata Reno.

Warga yang hadir antusias mengikuti prosesi kirab. Upacara adat ini dikemas dalam nuansa Jawa yang kental. Para peserta mengenakan surjan, lurik dan kebaya.

Bahasa pengantar menggunakan bahasa Jawa. Mulai dari komando pasukan hingga pidato yang disampaikan kepala desa. Momen langka ini diabadikan beberapa warga melalui ponsel masing-masing.

“Baru kali pertama ini diadakan kirab, bagus. Semoga tahun depan tetap lanjut. Bisa mengenalkan ke anak-anak upacara adat khas desa,” kata salah seorang warga Desi Kurniawati, 32. (dwi/iwa/ong)