RADARJOGJA.CO.ID – SLEMAN – Salak pondoh Sleman sudah menembus pasar Eropa. Permintaan per tahun kian meningkat, mencapai 360 ton. Pengiriman salak tetap memperhatikan spesifikasi dan standar internasional.

Ketua Asosiasi Petani Salak Sleman Prima Sembada Maryono mengatakan kualitas adalah faktor utama. Salak-salak yang dikirim harus memenuhi syarat organik. Teknik dan proses penanaman tidak menggunakan obat kimia.

“Di Sleman, petani salak yang tergabung dalam asosiasi tidak menggunakan pupuk kimia. Bahkan untuk pestisida nol, kami menggunakan produk organik,” kata Maryono kemarin

Penggunaan unsur kimia justru merugikan. Buah cepat busuk. Rasa jauh berbeda dengan penggunaan unsur organik. Padahal untuk memenuhi syarat ekspor adalah tahan lama tanpa pengawet.

Salak yang dikirim melalui tahap seleksi. Salak yang cacat dan luka tidak disertakan. Salak yang bagus bisa bertahan hingga dua minggu. Tanpa perlakuan pengawetan dengan obat.

“Kami melakukan seleksi ketat. Kalau tercampur dengan salak yang luka akan menular. Termasuk jamur, bisa menular meski hanya satu salak yang kena,” ujar Maryono.

Upaya pemenuhan syarat ekspor terus digenjot Prima Sembada. Menyertakan standar internasional untuk produk pangan. Prima Sembada telah mengantongi verifikasi dari IMO Swiss dan Control Union Belanda.

Sebuah lahan khusus untuk salak organik telah disiapkan. Luasnya mencapai 40 hektare. Sama seperti produk buah, lahan ini juga telah mengantongi verifikasi internasional oleh dua lembaga tersebut.

“Untuk salak ekspor kami kirim yang super grade B, kematangan mencapai 60-70 persen. Agar lebih tahan lama selama proses pengiriman. Sementara untuk grade A kami distribusikan ke supermarket dan pusat oleh-oleh wilayah lokal,” kata Maryono.

Selain Eropa, salak pondoh juga dikirim ke Tiongkok, Kamboja dan Australia. Khusus untuk Tiongkok pengiriman sudah berjalan setiap minggu. Bahkan jadwal pengiriman dua kali seminggu.

Dinas Pertanian Perikanan dan Perhutanan (Dispertanhut) Sleman mendorong kualitas ekspor salak pondoh. Upaya ini dengan mematenkan identitas salak pondoh. Salak-salak pondoh yang ditanam di Sleman telah memiliki identitas Indikasi Geografis (IG).

Tujuannya menjaga citra dan kualitas Salak Pondoh Sleman. Rasa pada salak khas Sleman itu terpengaruh kondisi geografis. Tidak bisa ditiru petani luar Sleman. (dwi/iwa/ong)