RADARJOGJA.CO.IDAngin kencang menerjang dua kecamatan di Gunungkidul. Dalam kejadian tersebut, satu keluarga terdiri dari ibu dan anak mengalami luka-luka akibat atap rumah runtuh.

Peristiwa angin kencang berlangsung Selasa dini hari (27/12) di Kecamatan Gedangsari dan Girisobo. Di Kecamatan Gedangsari, tepatnya Padukuhan Pace B, RT 04/3, Desa Hargomulyo, rumah milik Giyono rusak parah akibat pohon tumbang tak kuat menahan hempasan angin.

Rumah korban hancur dan istrinya, Ngadini, 30, dan anaknya yang masih balita, Talita, 3, mengalami luka-luka karena terkena reruntuhan bangunan. Akibat kejadian tersebut, keduanya mendapat perawatan medis di puskesmas setempat.

Kejadian berawal saat hujan kerigimis. Mereka tengah tertidur nyeyak. Secara mengejutkan terdengar suara benturan keras dan diikuti runtuhnya atap rumah. Kepala keluarga ini kalang kabut. Terlebih saat mendengar suara teriakan kesakitan istri dan anak.

“Kejadiannya sekitar pukul 04. 30. Saya berupaya menyelamatkan keluarga untuk keluar dari reruntuhan bangunan rumah,” ungkap Giyono.

Jeritan tangis keluarga korban memancing tetangga terbangun dari tidur dan langsung keluar rumah memberikan pertolongan. Meski masih gerimis, tidak menyurutkan warga untuk kerja bakti untuk menyingkirkan pohon sengon yang tumbang dan menimpa rumah korban.

“Langsung mendapat perawatan medis dengan jahitan di kepala. Setelah kondisi kesehatan membaik, diizinkan pulang dengan status rawat jalan,” kata Kusmiyanto, salah satu tetangga korban.

Kejadian serupa di Kecamatan Girisubo, angin kencang menyebabkan dapur rumah milik warga Desa Balong, Supriyono, 47, ambruk. Perabot rumah tangga di dalam rumah rusak dan kerugian ditaksir mencapai jutaan rupiah. Tidak korban luka dalam musibah tersebut.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul Budhi Harjo mengaku, sudah mengecek lokasi dan memberikan bantuan logistik pada korban. Ia melihat warga juga ikut kerja bakti. “Kami mengimbau pada masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan. Karena potensi angin kencang dan hujan deras masih terjadi hingga akhir Januari 2017, sebagai dampak cuara ekstrem,” kata Budhi Harjo.(gun/hes)