RADARJOGJA.CO.ID – BANTUL – Lahan pertanian di sebagian pesisir selatan, persisnya di Desa Gadingsari, Sanden terancam rusak. Itu menyusul masih maraknya penambangan pasir ilegal di kawasan ini. Padahal, lokasi penambangan pasir yang terletak di pedukuhan Wonoroto, Gadingsari, Sanden ini pernah dirazia dan ditutup Polda DIJ.

Dari pantauan, ada dua titik penambangan pasir ilegal di wilayah Gadingsari, Sanden ini. Parahnya, para penambang tidak mencari pasir di kawasan sungai. Seperti penambangan pasir pada umumnya. Melainkan di area pertanian subur. “Lubang-lubang ini, dampak dari penambangan,” ucap seorang petani yang enggan disebutkan identitasnya ini, Selasa (27/12).

Ya, ada banyak titik lubang tak beraturan di area persawahan di wilayah Gadingsari. Dampaknya, lubang-lubang berdiameter cukup besar ini hanya menjadi kubangan air. Dampak lainnya, area pertanian di sekitar bekas lokasi penambangan ini banyak yang terendam air. Air ini ditengarai berasal dari luberan dari bekas lokasi penambangan liar. Saking banyaknya area pertanian yang terendam, tidak sedikit warga setempat yang memanfaatkannya sebagai lokasi pemancingan dadakan.

Kasi Kesejahteraan Desa Gadungsari Bowo Nurcahyo membenarkan adanya praktik penambangan pasir di wilayahnya. Bahkan, aktivitas penambangan ini telah berjalan sejak 2012 lalu. “Luasnya sekitar empat hektare. Ada yang milik pribadi. Ada juga yang sultan ground,” jelasnya.

Kendati ilegal, Bowo mengaku tidak dapat berbuat banyak. Sebab, pemerintah desa tidak memiliki kewenangan apapun menindak praktik penambangan ilegal.

Plt Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan Bantul Pulung Haryadi menyayangkan adanya praktik penambangan pasir di area pertanian produktif. Sebab, hal tersebut dapat mengurangi luasan lahan pertanian. Kendati begitu, Pulung mengaku tidak dapat berbuat banyak. “Apalagi kalau lahan tersebut milik pribadi,” tambahnya. (zam/din/mar)