RADARJOGJA.CO.IDPembinaan usia dini di Indonesia sebenarnya sangat menggembirakan. Selain antusias, Timnas usia muda pun menorehkan berbagai prestasi membanggakan.

Tengok saja, generasi Evan Dimas Cs. Kala memperkuat Timnas U-19, Evan Dimas berhasil menjadi menjadi kampiun di Asia Tenggara. Mereka bahkan membungkam Macan Asia, Korea Selatan 3-2.

Lalu, yang menjadi persoalan, kenapa setelah berada di Timnas Senior mereka gagal?
Jurnalis desk olahraga Jawa Pos Miftakhul FS mengungkapkan, saat Piala AFF 2016 akan dimulai, jauh hari dia sudah meyakini tidak akan juara, karena sudah tidak jelas sejak awal. Menurutnya, jika memang ingin membangun sepak bola Indonesia yang baik maka perlu mengubah pola pikir pengembangan sepak bola. “Kita saat ini tidak punya plan atau perencanaan dari bawah ke atas,” cetusnya.

Ia mencontohkan pelatih Piter Huistra yang akan dikontrak PSSI. Piter sebenarnya ingin membikin kurikulum pengembangan sepak bola berjenjang selama beberapa tahun ke depan. Namun belum tentu pas jika diterapkan karena kultur Eropa dan Indonesia beda.

“Kita sebenarnya bisa bikin sendiri, namun masalahnya pemerintah dan PSSI mau menerapkan atau tidak?” tuturnya.

Ia melihat, pola pembinaan sepak bola sejak pemain bola menimba ilmu di SSB sudah salah. Ketika latihan drible, kontrol, passing belum baik betul, sudah dituntut untuk juara. Hal ini yang membedakan dengan paradigma pembinaan di banyak negara sepak bola lain. “Ketika anak-anak, yang utama latihan. Kompetisi hanya hore-hore saja untuk senang-senang. Tidak harus juara. Juaranya nanti kalau sudah dewasa,” bebernya.