RADARJOGJA.CO.ID-Pelaku pembuat bom rakitan di Jalan Magelang-Kopeng, Salatiga, tepatnya di Desa/Kecamatan Tegalrejo meninggalkan petunjuk. Secarik kertas bertuliskan huruf arab gundul tanpa harokat, diduga sebagai kode khusus.

Pengasuh Pondok Pesantren API Tegalrejo KH Yusuf Chlundori menjelaskan, beberapa gabungan tulisan Arab ada yang seharusnya dipisah, tapi justru digabung. Kaidah penulisan arab sepertinya sengaja tak digunakan. Karena, bisa terbaca orang lain.

Ada kemungkinan tulisan itu berupa kode-kode agar tidak bisa dibaca orang lain. Hanya kalangan mereka (pembuat bom) yang bisa membaca kode tersebut. “Tulisannya bukan tulisan Arab standar. Arab awur-awuran. Kami kesulitan membacanya, seperti rajah,” katanya Rabu (28/12).

Jika merujuk ilmu penulisan Arab gundul, pesan itu bisa dibaca. “Nahwu shorof-nya tidak betul. Contohnya tulisan masjid harusnya mim, sin, jim, dan dal digabung. Tulisan itu seperti anak baru belajar menulis. Atau bisa juga kode-kode (penulis) yang saya tidak tahu,” jelasnya.

Huruf Arab Gundul. Diduga sebuah kode yang hanya bisa dibaca kelompok teroris.
Dia merasa janggal karena muncul kemungkinan, penulis tidak memahami ilmu tentang tajwid. Selain tulisan, hal yang janggal lainnya itu kenapa bom rakitan harus diletakkan di Tegalrejo. Selama ini daerah Tegalrejo dikenal daerah santri dan damai.

“(Kejanggalan lain) waktunya juga pas pagi hari,” ungkapnya.

Selain tulisan arab gundul, ada juga gambar yang menyerupai peta. Menurut Gus Yusuf, sapaannya, peta itu memang seperti denah lokasi masjid di Kota Magelang. Denah itu menggambarkan seperti Alun-Alun Kota Magelang yang di dekatnya ada masjid, Polres Magelang Kota, dan beberapa gereja di sekitarnya. Tulisan Arab gundul ini berupa seruan-seruan yang tidak bisa terbaca.