RADARJOGJA.CO.ID – TEMUAN bom rakitan di kompleks Pasar Tegalrejo, Magelang mendapat perhatian dari berbagai pihak. Kepolisian diminta lebih jeli dan waspada dalam memantau kegiatan kelompok masyarakat.

Pimpinan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Magelang khawatir, jika nantinya Magelang menjadi basis gerakan kelompok radikal. “Aparat keamanan harus lebih jeli. Indikasi itu sudah terlihat di beberapa titik,” kata Wakil Ketua PCNU Kabupaten Magelang Ahmad Majidun, kemarin (29/12).

Ahmad mengatakan, peristiwa yang terjadi di depan Apotek Perintis Farma Tegalrejo, Jalan R Pahlawan 83 Tegalrejo Selasa pagi (27/12) itu bisa saja bermuatan teror. Dengan demikian, Magelang dalam situasi siaga.

Kalau hal itu dikaitkan dengan kelompok ekstrem, maka Magelang termasuk daerah yang harus diwaspadai. “Khususnya Muntilan, Sawangan, Mungkid, Candimulyo, Tegalrejo, Pakis, Grabag, Secang, Kaliangkrik, Mertoyudan. Di daerah itu ada indikasi kelompok garis keras,” katanya.

Mantan Ketua Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Magelang itu mengungkapkan, ada orang luar daerah yang datang di daerah tersebut. Sementara mereka bersikap tertutup dan hanya berkomunikasi dengan grup kecil mereka. Bahkan terkesan menjauhi masyarakat.

“Orang-orang misterius dan aneh ini bertamu di keluarga yang memang sikap keagamaan mereka bersifat eksklusif,” jelasnya.

Untuk itu, dia meminta aparat jangan sampai kecolongan. Jika sampai Magelang menjadi basis gerakan radikal, maka akan muncul beberapa dampak. Di antaranya harmoni sosial masyarakat pasti terganggu. Suasana rukun dan guyub di wilayah Magelang pasti terganggu.

“Masyarakat kehilangan rasa aman. Selalu was-was dengan teror bom dan lain-lain. Selain itu juga wisatawan, pelaku usaha jadi khawatir masuk Magelang,” katanya.

Terpisah, Ketua PD Muhammadiyah Kabupaten Magelang H Jumari menjelaskan, fenomena bom yang ditemukan itu untuk memahaminya tidak sederhana. Dimungkinkan ada orang yang mau memancing masyarakat Magelang supaya situasi bertambah keruh.

“Hanya, tidak bisa ditebak itu dari mana,” kata Jumari.

Saat disinggung apakah pelaku itu dari orang Magelang sendiri, Jumari mengaku itu bisa saja didatangkan dari luar. Karena fenomena temuan bom serupa tidak hanya berlangsung di Magelang saja. Namun juga didaerah lainnya.

Dia menegaskan, di ajaran Islam berjihad itu dilakukan dengan cara yang baik dan benar. Selain itu, dipastikan dengan akhlak yang santun. Tidak mungkin orang berjuang, tapi dengan merusak situasi dan kondisi. Menyampaikan kebenaran itu dilakukan dengan cara yang baik dan tidak muncul suatu kerusakan.

“Atau kemungkinan pelaku dimanfaatkan (kelompok) politik tertentu. Sulit dijelaskan, tapi ada kemungkinan seperti itu,” tegasnya.

Jumari mempercayakan kasus ini kepada Kepolisian. Untuk diketahui, jelang pergantian tahun baru, warga Magelang dan sekitarnya dikejutkan dengan temuan bom rakitan. Warga menemukan tas warna cokelat berisi bom di depan Apotek Perintis Farma Tegalrejo, Jalan R Pahlawan 83 Tegalrejo Selasa pagi (27/12). Tim penjinak bahan peledak (Jihandak) Polda Jawa Tengah langsung meledakkan bom rakitan tersebut. (ady/ila/ong)

Jaga Keamanan, Tetap Waspada dan Siaga