RADARJOGJA.CO.ID – JOGJA – Wajah baru Malioboro yang apik tampaknya masih menyisakan banyak pekerjaan rumah (PR). Terlebih dalam penataan pedagang kaki lima (PKL) berserta sampah dan limbah yang mereka hasilnya. Apalagi, fasilitas yang ada saat ini lebih banyak difokuskan untuk wisatawan.

Dalam tahap pertama, street furniture termasuk tempat sampah memang sudah terpasang, namun keberadaannya untuk pengunjung. Sedangkan untuk PKL harus memiliki cara untuk mengelola limbahnya agar tetap terlihat bersih.

Penjabat Sekprov DIJ Rani Sjamsinarsi mengatakan, pemprov siap memberikan back-up pemkot dalam hal pembinaan PKL di Malioboro. Menurutnya, penataan itu memang tidak bisa jangka pendek.

“Saat ini kami lakukan pembinaan PKL dulu untuk tidak membuang limbah sembarangan,” ujarnya usai rapat koordinasi bersama instansi terkait pemkot dan pemprov, kemarin (29/12).

Dikatakan, dengan adanya perda PKL pihaknya akan melakukan penyatuan pemahaman dan pemikiran. “Kami juga perlu adakan strategi saat peak season seperti ini dan hari biasa,” ujarnya.

Kepala Dinas Pariwisata DIJ Aris Riyanta mengatakan, prinsipnya keberadaan Malioboro saat ini adalah kenyamanan wisatawan. Apalagi, warga Jogja juga menyambut positif wajah baru Malioboro saat ini. Sebab, Malioboro juga merepresentasikan pemprov dan masyarakat Jogja.

“Tempat sampah itu kan bukan untuk PKL, tapi untuk pengunjung, begitu juga untuk penggunaan air. Kalau bisa, mereka mengelola limbahnya, agar kesannya tidak jorok,” ujarnya.

Sebelumnya, Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Malioboro Syarif Teguh Prabowo mengaku sudah mengetahui perilaku buruk beberapa PKL. Menurut Syarif, aktivitas PKL mencuci di atas trotoar tersebut biasanya dilakukan setelah pukul 24.00, saat mau menutup dagangan.

Menurutnya, upaya persuasif terus dilakukan UPT Malioboro kepada para PKL di sana. Bahkan Syarif menegaskan kalau ada PKL yang bertindak tidak sesuai aturan, termasuk menaikkan harga, izinnya bisa dicabut. “Buat yang ngeyel izinnya bisa dicabut,” ungkapnya.

Menurutnya, persoalan PKL mencuci di trotoar hanya sebagian dari persoalan di Malioboro. Dia mengaku pernah melihat sendiri pengunjung yang buang sampah sembarangan hingga menginjak taman yang baru dibuat.

Sementara itu, menjelang perayaan tahun baru, kawasan Malioboro benar-benar akan difungsikan sebagai tempat publik dalam merayakan pergantian tahun. Rencananya, sebanyak 150 seniman Jogja akan beraksi di tiga titik.

Acara bertajuk Gelegar Specta Happy New Year yang digagas Dinas Pariwisata (Dispar) DIJ tersebut diharap bisa menjadi hiburan alternatif dan pemecah keramaian yang terpusat di Titik Nol Kilometer.

Tiga event yang disiapkan melibatkan sekitar 150 seniman Jogja, mulai dari seniman tradisional hingga modern. Tiga titik panggung tersebut yakni panggung utara yang berada di pertigaan Malioboro depan Hotel Inna Garuda dengan menampilkan Pelangi Nusantara, yakni kolaborasi etnik bintang pantura dan Jogja serta menampilkan tarian angguk dari Kulonprogo.

Di panggung tengah yang berada di depan Gedung DPRD DIJ menampilkan pagelaran wayang kulit semalam suntuk berkolaborasi dengan pelawak Jogja yang menghadirkan lakon Hasthabrata Kawedar dengan dalang Ki Ganda Suharno. Sedangkan panggung selatan berada di depan Kompleks Kepatihan yang akan menampilkan musik modern dengan penampilan band-band lokal Jogja.

Kepala Seksi ODTW Dispar DIJ Wardoyo menambahkan, saat selebrasi, tepat pukul 00.00 semua seniman di tiga titik tersebut akan membunyikan semua alat musik secara serentak.

“Kalau kembang api tidak diperbolehkan karena tidak ada area terbuka. Mungkin di titik nol, tapi biasanya itu diadakan oleh pemkot,” ujarnya. (dya/ila/ong)