RADARJOGJA.CO.ID – JOGJA – Pemuda asal Bantul, berinisial Wt, 21, ditangkap Satreskrim Polresta Jogjakarta atas dugaan perkosaan terhadap rekan kerjanya, sekaligus mantan pacarnya. Pegawai di sebuah gudang di salah satu mal di Malioboro itu memperkosa korban karena tidak terima diputus sepihak.

Penangkapan terhadap pelaku berdasarkan laporan dari korban, sebut saja Dahlia (nama samaran), pada awal Desember. Dalam laporan kepada polisi, dia diperkosa di sebuah gudang tempat pelaku kerja pada 20 November, sekitar pukul 18.30.

Kejadian bermula saat korban, menginginkan kisah percintaan dengan pelaku berakhir. Karena tidak terima diputus, pelaku melampiaskan amarahnya dengan memanggil korban untuk datang ke gudang.

Nah, saat korban tengah berada di gudang ini pelaku mencoba melampiaskan nafsunya. Pelaku langsung mendorong korban masuk ke dalam gudang. Di dalam gudang korban diperkosa sekali.

“Pelaku terlebih dahulu mengikat kedua tangan dan menyumpal mulut lalu melakukan perkosaan,” jelas Kasatreskrim Polresta Jogjakarta M Kasim Akbar Bantilan di Mapolresta Jogjakarta, kemarin (29/12).

Usai melampiaskan nafsu tersebut, pelaku mengancam korban untuk tidak buka suara.

Setelah diperkosa, korban kembali bekerja seperti biasa. “Keduanya teman kerja di sebuah mal. Mereka beda divisi, tapi sudah berpacaran delapan bulan dan si korban akhirnya meminta putus,” jelasnya.

Diungkapkan, korban minta putus karena tidak tahan dengan pacarnya yang temperamental.

Dari penuturan korban, saat memerkosa sempat mengatakan, lebih baik melihat dirinya mati daripa dengan lelaki lain.

Setelah kejadian, mereka berdua kerap kali bertemu seolah tidak terjadi apapun. Butuh waktu sekitar dua pekan agar korban mau melaporkan kejadian yang dialaminya ke pihak kepolisian.

“Korban didesak oleh saudara kandungnya untuk melapor,” jelasnya.

Lebih lanjut dijelaskan bahwa sejumlah barang bukti seperti celana panjang, celana dalam perempuan, dan handuk sudah diamankan. Korban sudah divisum untuk memastikan terjadinya pemerkosaan atau tidak.

Sementara itu, dari berbagai jenis tindak kejahatan yang jumlahnya mencapai ribuan di DIJ didominasi oleh penipuan. Penipuan menempati peringkat pertama dari sepuluh besar kriminalitas yang sering terjadi.

Hingga akhir 2016, sebanyak 1.224 kasus penipuan terjadi di DIJ. Jumlah itu menurun dari tahun sebelumnya sebanyak 1.548 kasus.

Sementara jenis kejahatan lain yang cukup marak yakni pencurian dengan pemberatan 721 kasus, pencurian biasa 615 kasus, penggelapan 567 kasus, dan pencurian kendaraan bermotor 526 kasus.

Kapolda DIJ Brigjen Pol Ahmad Dofiri menyebut, keberadaan kasus penipuan dan pencurian, bisa ditekan dengan meningkatkan kewaspadaan baik di rumah maupun di lingkungan masyarakat.

Dicontohkan, seperti kasus pencurian disertai kekerasan yang terjadi di Pulomas baru-baru ini. Hal itu terjadi karena kondisi pintu gerbang rumah terbuka sehingga memudahkan pencuri masuk.

“Jadi pola pencegahannya harus dilakukan beserta kerja sama masyarakat. Bila ini dilakukan otomatis kejahatan pencurian maupun penipuan bisa turun,” jelas Dofiri dalam jumpa pers terkait laporan Akhir Tahun 2016 Kapolda DIJ di Gedung Serbaguna Mapolda DIJ, kemarin (29/12).

Diungkapkan, hingga akhir 2016 tercatat sebanyak 6.253 laporan tindak kriminalitas di DIJ. Laporan itu turun 5,53 persen atau 366 kasus dari tahun 2015 yang tercatat ada 6619 kasus.

Selain kasus penipuan dan pencurian, ada lima kasus lain yang banyak terjadi di 2016. Kelimanya yaitu aniaya ringan (369), narkoba (457), pencurian dengan kekerasan (168), pengeroyokan (154), dan perjudian (175).

Dirreskrimum Polda DIJ Kombes Pol Frans Tjahyono menjelaskan, tingginya laporan penipuan dibanding tindakan kriminal lainnya dikarenakan masih lemahnya kewaspadaan masyarakat. Keberadaan media sosial dan internet menjadi salah satu celah yang dimanfaatkan pelaku untuk menemukan para calon korban.

“Laporan yang sering kami terima penipuan dari belanja online dan undian berhadiah,” jelasnya.

Selain melalui online, motif baru yang sangat mudah dipercaya masyarakat seperti kredit tanpa bunga dan kredit dalam jangka panjang, dengan uang muka yang cukup banyak di awal.

Masyarakat, jelasnya, harus lebih waspada dan tidak mudah percaya termakan promo dan hadiah dengan syarat mentransfer uang terlebih dahulu. “Telusuri dulu, bila ada yang mencurigakan segera laporkan,” jelasnya.

Sedangkan dalam penanganan narkoba, meski terjadi peningkatan dari 2015 sebanyak 54 kasus, namun secara indeks pengguna narkoba di DIJ menurun. Karena pada tahun 2008 DIJ ada di peringkat kedua, tahun ini ada di peringkat delapan. (bhn/ila/ong)