RADARJOGJA.CO.ID – Proses pengungkapan kasus pembunuhan Elisa terbilang cukup rumit. Minimnya saksi menjadi kendala tersendiri bagi penyidik dari Polres Gunungkidul. Bahkan, untuk mengungkap kasus tersebut penyidik minta bantuan dari tim Laboratorium Forensik (Labfor) Semarang.

“Kami minta bantuan labfor atas bukti-bukti yang kami temukan di tempat kejadian perkara (TKP),” kata Kasat Reskrim Polres Gunungkidul AKP Mustijad Priambodo kemarin (30/12).

Saat ditemukan, jasad korban dalam kondisi setengah telanjang. Tidak jauh dari lokasi berceceran darah mengering, gesper (ikat pinggang berlogo identitas SMP swasta), dan celana dalam diduga milik korban.

Dari olah TKP dan pengembangan penyelidikan mengarah pada Subandi sebagai sosok yang dianggap bertanggung jawab atas kasus tersebut. Dia diduga kuat sebagai pelaku tunggal pembunuhan. Salah satu alat bukti yang menjadi dasar bagi penyidik untuk menetapkan tersangka adalah jejak telapak kaki darah milik pelaku.

Baca: Pembunuh Elisa Ari, Subandi Divonis Seumur Hidup

Tidak hanya itu, tabir kejahatan semakin terang benderang karena beberapa hari sebelum kejadian, tersangka diketahui keluar dari TKP menggunakan sepeda motor jenis matic bernomor polisi AB 2411 SG. Polisi kemudian bergerak cepat memburu pelaku. Dari kediaman pelaku, petugas memperoleh informasi dari istrinya, yang mengaku disuruh membakar jaket, celana, kaos, dan sarung tangan serta telepon seluler (milik korban) karena ada noda darah.

Untuk menguatkan bukti-bukti, petugas juga menelusuri jejak tersangka. Penyidik mendapat informasi bahwa antara Subandi dan ibu korban saling kenal. Bahkan, jauh hari sebelum peristiwa pembunuhan terjadi Subandi kerap datang ke rumah korban. Fakta-fakta itulah yang menguatkan penyidik untuk memburu pelaku. Subandi ditangkap Kamis (10/3).

“Waktu itu, olah TKP sempat dilakukan berulangkali,” kenangnya.

Mendapati sejumlah fakta, penyidik akhirnya menjerat Subandi dengan pasal berlapis. Yakni, tentang kekerasan terhadap anak yang telah mengakibatkan hilangnya nyawa sesuai pasal 80 ayat 3 UU No 35 Tahun 2014 tentang Perubahan UU No 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, serta pasal 340 sub pasal 338 KUHP dan atau pasal 351 ayat (3) KUHP. (gun/yog/ong)