RADARJOGJA.CO.ID-Masih ingat dengan dr Rica Tri Handayani, seorang dokter di RSUP dr Sardjito yang menjadi awal terbongkarnya Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) akhir 2015 silam. Peristiwa serupa kembali menimpa seorang dokter.

Kali ini, seorang dokter residen Obsgyn Fakultas Kedokteran (FK) UGM dr Nur Ruwaida Isnaini, 29, dilaporkan hilang sejak Rabu (4/1) lalu. Warga asal Bogor, Jawa Barat, itu dikabarkan meninggalkan kos di Jalan Sendowo, Sinduadi, Mlati, Sleman pada pagi hari.

Ketua Departemen Obsgyn FK UGM dr Detty Siti Nurdiati mengungkapkan, dr Aini, sapaan Nur Ruwaida Isnaini, hilang saat ditugaskan di RSUD Sleman sejak 30 Desember lalu. Kemudian, sesuai dengan persyaratan yudisium terkait pendidikan spesialis yang sedang ditempuh, dr Aini diminta untuk kembali ke RSUP dr Sardjito.

Sekitar pukul 09.00, Aini berjanji dengan salah seorang staf Obsgyn FK UGM bertemu di RSUP dr Sardjito pukul 10.00 WIB. Tapi, sampai saat ini, staf tersebut tak pernah bertemu dengan dr Aini.

“Pesan WhatsApp (WA) terakhir pukul 9.58, di mana dr Aini mengatakan akan tiba di RSUP dr Sardjito 30 menit lagi,” jelas Detty.

Hampir dua jam, Aini tak kunjung datang. Karena khawatir, rekan-rekan sesama dokter residen melakukan pencarian di kosnya serta kampus. Tapi, tak membuahkan hasil.

Sejumlah rekannya kemudian berkoordinasi dengan pihak keluarga. Selanjutnya pada hari itu juga pihak keluarga melaporkan ke Polsek Mlati.

Saat dilakukan pengecekan melalui closed circuit television (CCTV) yang ada di kosnya, dr Aini pergi dengan berjalan kaki pukul 09.55 WIB. Bahkan dokter muda ini sempat menitipkan kendaraan miliknya kepada pemilik kos.

Sore harinya, polisi melakukan pelacakan melalui handphone yang dibawa. Diketahui posisi Aini sudah berada di kawasan Temanggung, Jawa Tengah.

Saat keluarga menyusul ke Temanggung, ternyata lokasi itu merupakan tempat kos yang dihuni para bidan. Namun dari pengakuan yang tinggal di tempat itu, tak satu pun dari mereka melihat keberadaan Aini.

Keesokan harinya, sebuah pesan singkat dikirim oleh Aini kepada pihak keluarga. Dalam pesan singkat itu disebutkan agar keluarga tidak usah mencari dirinya. Ia juga meminta keluarga untuk mendoakan agar selalu dalam lindungan Allah.

Setelah dilakukan pelacakan, SMS itu dikirim dari Gorontalo, Sulawesi. Kemudian kepolisian berkoordinsi dengan aparat yang ada di sana untuk melakukan pengecekan. Dari laporan kepolisian Gorontalo tidak mengetahui keberadaan Aini.

“Memang sebelumnya dr Aini pernah menjadi dokter PTT (pegawai tidak tetap) di sebuah puskesmas di Gorontalo,” jelas dr Detty.

Kapolsek Mlati AKP Supriantoro menjelaskan, perkembangan terakhir ponsel yang dibawa dr Aini sudah tidak aktif. “Kami belum bisa melakukan pendalaman, karena pelapor belum datang kembali ke Polsek,” jelasnya.

Sesuai informasi dari pelapor yang datang ke Polsek Mlati saat itu, yang bersangkutan perginya belum ada 1 x 24 jam, sehingga baru dibuatan SPKT.

“Saya meminta pelapor datang kembali guna pemeriksaan saksi-saksi,” jelasnya. (bhn/eri)