RADARJOGJA.CO.ID – Pemkab Bantul optimistis mampu menuju swasembada pangan dari sektor pertanian, khususnya padi. Itu setelah melihat hasil produksi panen dengan model demplot di beberapa lahan percontohan. Salah satunya, di Dusun Tegalayang, Caturharjo, Pandak.

Program yang digagas penggiat Gerakan Indonesia Bekerja (Inaker) memanfaatkan lahan seluas 1,2 hektare. Menghasilkan sedikitnya 10 ton gabah. Atau 8,3 ton per hektare. Hasil itu melampaui target pemkab yang hanya 7,8 ton per hektare.

Pendiri Inaker Gaguk Kaputriana mengatakan, ada tiga demplot yang diujicobakan di wilayah DIJ. Dua di antaranya berada di wilayah Kalasan, Sleman.

“Sebagaimana di Tegalayang, hasil panen di dua demplot ini juga memuaskan. Hampir sama hasilnya,” ucapnya di sela panen raya di Dusun Tegalayang, Sabtu (14/1).

Gaguk mengklaim, capaian tersebut tak terlepas dari pendampingan Inaker. Mulai masa tanam hingga menjelang panen, Inaker intens mendampingi para petani. Tujuannya, agar para petani tak sembarangan menggunakan pupuk.

“Jika berlebih juga tak sehat bagi tanaman,” jelasnya.

Kepala Dinas Pertanian Pangan Kelautan dan Perikanan (DPPKP) Bantul Pulung Haryadi menargetkan produksi gabah kering pada 2017 mencapai 194 ribu ton. Angka ini naik seribu ton disbanding target 2016.

Pulung sengaja menaikkan target dengan beberapa pertimbangan. Mulai dukungan cuaca, pola tanam, hingga banyaknya demplot yang tersebar di berbagai wilayah.

“Saat ini saja luas lahan yang ditanami padi mencapai 1.995 hektare,” sebutnya.

Sukses produksi beras, lanjut Pulung, tak lepas adanya pergeseran pola pangan masyarakat. Dikatakan, berdasarkan survey Badan Pusat Statistik selama lima tahun terakhir, sebagian masyarakat mengonsumsi sumber karbohidrat selain beras. Seperti umbi-umbian. “Pada 2011 per kapita 112 kilogram beras. Lali di 2016 turun menjadi 96 kilogram per tahun,” tuturnya. (zam/yog/mar)