RADARJOGJA.CO.ID – Jalur kereta api (KA) penghubung Bandara Temon rencana akan dibangun lebih ke utara. Alternatif itu dipilih karena ada penolakan sebagian warga pemilik lahan. Rencana itu juga tidak mudah, karena harus menyesuaikan posisi stasiun dan terminal bandara.

”Ada alternatif digeser lebih ke utara, namun yang menjadi kendala harus menyesuaikan posisi stasiun dan terminal bandaranya,” kata Asisten Perekonomian Pembangunan dan Sumber Daya Alam (SDA) Setda Kulonprogo Triyono kemarin.

Ditambahkan, untuk alternatif baru ini, jarak tempuh juga menjadi pertimbangan. Terkait hal ini, PT KAI dan PT Angkasa Pura I diminta segera menyinkronkan letak terminal dan stasiun yang akan dilalui.

“Yang pasti, jalur alternatif baru ini tidak melalui pemukiman warga,” kata Triyono.

Project Manager Proyek Pembangunan New Yogyakarta International Airport (NYIA) PT Angkasa Pura I Sujiastono menjelaskan lokasi terminal bandara sejak awal telah ditetapkan dan masuk maket pembangunan bandara. Posisi terminal sudah ditentukan, jalur penghubung ke bandara dibangun dari Stasiun Kedundang Temon ditarik ke selatan masuk area bandara.

“Jalur tersebut kemudian berlanjut ke barat hingga area ground logistic, kemudian terus ke utara menuju Stasiun Wojo, Purworejo. Jalur kereta ini juga akan berpotongan dengan ruas jalan nasional Jogja-Purworejo,” kata Sujiastono.

Sebelumnya, jalur KA bandara sempat disurvei ulang karena sebagian melintasi lahan warga penolak bandara. Tepatnya sekitar 800 meter dari jalur sepanjang 6,1 kilometer tersebut tidak bisa disurvei sehingga jalur terpaksa digeser.

Lahan tersebut berada di kawasan utara Pedukuhan Sidorejo, Desa Glagah, Kecamatan Temon yang menjadi salah satu basis warga penolak bandara yang tergabung dalam paguyuban Wahana Tri Tunggal (WTT). (tom/iwa/mar)