RADARJOGJA.CO.ID – SOLO – Dua tersangka penganiayaan peserta pendidikan dasar (diksar) Mapala UII (Unisi), Angga Septiawan, 27, dan Muhammad Wahyudi, 25, mengakui melakukan tindakan kekerasan. Hal itu diungkapkan oleh Kapolres Karangayar AKBP Ade Safri Simanjuntak.

Ade menjelaskan, berdasarkan hasil pemeriksaan para pelaku secara berani mengakui bahwa mereka memang melakukan tindak kriminal tersebut. “Saya mengapresiasi para pelaku, karena secara jantan mereka mengakui tindakan kekerasan yang mereka lakukan,” ungkapnya kemarin (2/2).

Terkait motif keduanya melakukan penganiayaan hingga berujung kematian peserta diksar, Ade mengaku masih menelusurinya. Untuk saat ini, pihaknya memberikan pendampingan dengan memberikan kuasa hukum kepada kedua tersangka. “Kami juga sudah memberikan kuasa hukum kepada mereka,” tandasnya.

Ditanya apakah akan ada tersangka tambahan? Ade mengungkapkan, hal itu tidak menutup kemungkinan. Terlebih saat ini masih menunggu hasil kajian dari keterangan 16 panitia diksar serta dua saksi tambahan dari anggota mapala. Termasuk kesaksian dua dokter dari RS Bethesda Jogjakarta, serta hasil otopsi dari RSUP dr Sardjito.

“Kami akan mengkaji terkait job desk mereka masing-masing di kepanitiaan,” ungkapnya.

Termasuk mengkaji standard operation procedure (SOP) dari pelaksanaan diksar itu sendiri, sehingga diketahui apakah kekerasan itu murni dilakukan oknum atau dilakukan secara sistematis.

“Kalau sistematis, otomatis ada tersangka lain, bisa kena pasal penganiayaan dan pasal pembiaran,” paparnya.

Saat ini kepolisian juga akan memeriksa 26 saksi lain yang merupakan panitia acara serta saksi dari pihak peserta kegiatan tersebut. Para peserta, lanjut Ade, sudah mendapat jaminan dari LPKS (Lembaga Perlindungan Korban dan Saksi).

“Mereka akan segera kami periksa karena identitas mereka sudah terjamin. Hal ini kami lakukan supaya hasil penyidikan lengkap dan segera kami limpahkan ke Kejaksaan,” terang Ade.

Sementara itu, petugas kepolisian kembali memeriksan kesehatan Yudi dan Angga. Dua pelaku kasus penganiayaan dalam acara The Great Camping (TGC) diksar Mapala UII itu terserang batuk dan flu.

Dari pantuan Radar Solo (Jawa Pos Grup). Keduanya dikawal ketat saat dikeluarkan dari ruang tahanan Polres Karanganyar untuk digiring ke ruang Penyidik Satreskrim.

Dokter Kepolisian (Dokpol) Polres Karanganyar Dr Dyah Laksmi langsung memeriksa keduanya. Mulai dari pernapasan hingga tekanan darah mereka.

Usai diperiksa, kedua pelaku langsung dikembalikan lagi ke ruang tahanan. Secara umum, Dyah mengungkapkan, kondisi mereka baik. Batuk dan flunya sudah tidak dikeluhkan lagi seperti pada pemeriksaan sebelumnya.

“Keluhan mereka dehidrasi, sehingga masukan itu akan kami berikan kepada penjaga tahanan untuk menambah air minum bagi mereka,” katanya.

Dari hasil pemeriksaan, lanjut Dyah, kodisi tersangka normal. Tekanan darah Wahyudi 130/80, sedangkan Angga 140/90. Guna menambah daya tahan tubuh mereka, Dyah menuturkan, sudah diberikan tambahan vitamin.

“Kalau dari sisi psikologis tidak tertekan, namun rasa penyesalan sudah terpancar dilihat dari tutur kata mereka ketika konsultasi tadi,” ungkap Dyah.

Seperti diketahui pelaksanaan diksar Mapala UII di Tlogodringo, Tawangmangu pada 14 hingga 20 Januari berujung duka. Tiga pesertanya pulang tanpa nyawa. Mereka adalah Muhammad Fadli, Syaits Asyam, dan Ilham Nurfadmi Listia Adi. Di tubuh mereka terdapat luka-luka, di tangan bahkan kuku jempol kaki mereka copot. (atn/ila/ong)