Buntut Ditutupnya Runway Akibat Pesawat Garuda Tergelincir

SLEMAN – Sekitar enam ribu penumpang di Bandara Adisutjipto Jogjakarta dipastikan gagal terbang hingga pukul 15.00, kemarin (2/2). Hal tersebut merupakan buntut dari ditutupnya runway (landasan pacu) akibat tergelincirnya pesawat Garuda Indonesia pada Rabu malam (1/2).

Pihak Bandara Adisutjipto, malam sebelumnya, menyatakan penerbangan baru beroperasi kembali pukul 10.00. Namun, hingga waktu tersebut proses evakuasi terhadap pesawat tipe Boeing 737 NG tersebut belum selesai dilakukan.

Bandara baru dibuka sekitar pukul 15.00. PT Angkasa Pura I mengeluarkan Notice to Airmen Nomor B0766/17. Isinya penutupan Runway 09/27 Bandara Adisutjipto hingga pukul 15.00. Mundur dari jadwal awal penutupan runway pukul 10.00.

General Manager PT Angkasa Pura (AP) I Bandara International Adisujtipto Agus Pandu Purnama menjelaskan, pembukaan landasan baru bisa dilakukan setelah evakuasi pesawat selesai dilakukan.

Evakuasi, baru berjalan ditentukan dengan adanya salvage (alat pemindah pesawat). Sementara keberadaan salvage sendiri harus didatangkan dari Jakarta melalui penerbangan Solo.

“Sampai di Solo jam empat pagi. Baru tiba di Jogjakarta sekitar pukul 07.00,” jelas Pandu.

Dijelaskan, proses pemindahan pesawat tidak semulus yang dibayangkan. Sebab, keberadaan jalur evakuasi yang cukup lembek sehingga pihak bandara harus melakukan pengerasan terlebih dahulu.

Proses evekuasi dimulai sekitar pukul 9.00 dan memerlukan waktu sekitar lima jam untuk bisa memindahkan pesawat. “Tanahnya cukup lembek dengan kedalaman sekitar 50 sentimeter. Harus diperkeras dulu untuk track way evakuasi,” jelasnya.

Selama landasan belum dioperasikan, ribuan penumpang yang tidak terbang sesuai jadwal telah difasilitasi oleh pihak maskapai. Mereka diminta untuk melakukan penjadwalan ulang atau membatalkan penerbangan.

Selain itu, ada pula penumpang yang dialihkan menggunakan Bandara Adisoemarmo, Solo pada Rabu malam. Penumpang yang melalui Bandara Adisoemarmo diberangkatkan dengan dua pesawat Sriwijaya,dua pesawat Lion Air, dan satu penerbangan Batik Air.

Sedangkan kemarin pagi (2/2), sekitar 50 penumpang diterbangkan menggunakan maskapai Garuda Indonesia. “Yang kami alihkan untuk penerbangan tujuan Jakarta. Total ada 15 bus yang kami sediakan untun mengantar ke Adisoemarmo,” katanya.

Hingga kondisi bandara berjalan normal, setidaknya ada enam ribuan penumpang yang tidak bisa diterbangkan melalui Adisutjipto. Pada Rabu malam, terdapat 23 penerbangan yang dibatalkan dengan estimasi penumpang sekitar 2.400 penumpang. Sedangkan Kamis kemarin sekitar 30 penerbangan dengan estimasi sekitar 4.000an penumpang.

“Selama penutupan, Solo menjadi alternatif pengalihan penerbangan. Sudah dikomunikasikan dengan sesama Angkasa Pura I dan Kementerian Perhubungan menyetujuinya,” jelasnya.

Saat disinggung keberadaan runway Bandara Adisutjipto yang tidak layak untuk pesawat berbadan besar, Pandu menampik hal tersebut. Menurutnya, runway sepanjang 2.200 meter tersebut sudah sesuai standar. “Ukurannya sudah sesuai untuk jenis boeing 737-800,” tegasnya.

Saat ditanyakan secara pasti penyebab tergelincirnya pesawat, Pandu menyerahkan hal itu pada hasil investigasi dari pihak Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) yang sudah berada di Bandara Adisutjipto sejak kemarin.

“KNKT sudah berkerja untuk pengumpulan data-data,” katanya.

Terpisah, Danlanud Adisutjipto Marsma Pertama Novyan Samyoga mengungkapkan, pihaknya menerjunkan 150 personel TNI untuk proses evakuasi. Dia menjelaskan, proses evakuasi berjalan lebih awal dari target semula. Sekitar pukul 12.45 badan pesawat sudah berada di landasan.

“Untuk balon udara tidak jadi kami pakai. Evakuasi cukup dengan plat metal dan pasir untuk menutup tanah basah,” ujarnya.

Posisi badan pesawat berada di runway 12,5 meter. Samyoga menuturkan, batas toleransi sejatinya 50 meter. Hanya, pesawat harus tetap dievakuasi agar tidak mengganggu jadwal penerbangan lainnya.

Insiden ini tidak hanya mengganggu jadwal penerbangan komersial. Penerbangan militer yang berada satu wilayah juga terkena imbasnya. Seluruh penerbangan militer baik latihan maupun reguler dihentikan sementara waktu.

“Kami tidak mau gambling, pesawat harus tetap dievakuasi. Kegiatan penerbangan militer juga off. Fokus pada evakuasi pesawat,” jelasnya.

Samyoga menuturkan, kondisi pesawat tidak ada kerusakan berat. Roda pendarat yang terperosok juga masih berfungsi baik. Hal itu memudahkan proses evakuasi dari tanah ke landasan pacu.

Akibat dari insiden ini ada 34 jadwal penerbangan Garuda Indonesia yang terganggu. Di antaranya penerbangan pulang pergi (PP). Yakni sepuluh flight Jakarta-Jogjakarta, tiga jadwal penerbangan Denpasar, dua penerbangan Makassar, serta masing-masing satu penerbangan tujuan Balikpapan dan Surabaya.

General Manager Garuda Indonesia Jogjakarta Supriyanto mengungkapkan, evakuasi berjalan normal. Jam penerbangan pertama pukul 16.00.

“Dalam kesempatan ini kami juga menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan khususnya pengguna jasa yang mengharuskan adanya penutupan bandara,” jelas Supriyanto.

Sementara itu, salah satu warga yang menggunakan jasa penerbangan, Ian, 25, menyayangkan pemberitahuan pihak bandara maupun maskapai yang tidak tuntas. Dia pun harus kembali melakukan penjadwalan ulang.

Sesuai jadwal, warga Kotabumi, Lampung ini berangkat pukul 07.30 menggunakan maskapai Lion Air. Kemudia di-reschedule menjadi pukul 13.50.

“Mau nggak mau harus reschedule lagi mencari maskapai yang masih kosong. Namanya juga kondisi musibah,” ujarnya.

Sedangkan salah seorang penumpang lain yang akan ke Banjarmasin, Sapto, 42, mengaku sudah sejak Rabu malam berada di Bandara Adisutjipto. Karena penerbangannya dibatalkan, pria yang dijadwalkan berangkat pukul 19.00 itu sempat menginap sehari di penginapan yang berdekatan dengan bandara dengan biaya sendiri. “Sudah ganti jadwal rencana terbang pukul 19.00 nanti (kemarin),” ujarnya. (bhn/dwi/ila/mg2)